Halaman blog site dokumentasi karya-karya penulis Donny Anggoro

Monday, January 30, 2006

Tulisan Film

Majalah F, No.05/Juni-Juli 2006

Film Pendek Indonesia,
Riwayatmu Kini…

Jika ditelusuri dari sejarah, perkembangan film pendek Indonesia sudah cukup tua usianya. Pada masa Orde Lama pemerintahan Soekarno (1945-1965) film pendek sudah digunakan untuk propaganda pembangunan. Propaganda tersebut masih berlanjut pada masa pemerintahan Orde Baru terutama di TVRI era 1980-an dengan menayangkan film pendek Dinamika Pembangunan.

Sedangkan untuk lomba, tahun 1973 Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pertama kalinya menggelar festival tersebut dengan nama “Sayembara Film Mini”. Sayembara ini digelar bersamaan dengan melukis, menulis roman, naskah sandiwara, dan sebagainya. Dikatakan “mini” untuk memberikan konotasi sedikit “nakal” dan ada “nuansa perlawanan” karena saat itu sedang populer adanya rok mini (juga pria berambut gondrong) yang sempat dilarang pemerintah. Film yang dilombakan kala itu adalah film jenis 8mm dan 16 mm.
Digagas oleh D.A Peransi (penulis, pelukis, dan sutradara film dokumenter), Gayus Siagian (kritikus sastra, penerjemah, dan pendiri Perfini), Alam Suryawijaya dan Patmadimoedja, dua anggota DKJ pada waktu itu yang kemudian digiatkan oleh Djadoeg Djajakusuma, Sayembara Film Mini mendapat sambutan. Pesertanya yang semula dari 17 meningkat sampai 40 orang. Karya yang dilombakan dapat disaksikan publik dalam kompleks TIM Jakarta dengan harga tiket Rp. 1000.

Sistem penjuriannya cukup ketat. Misalnya pada sayembara Film Mini DKJ 1980 yang pemenangnya adalah Enison Sinaro (film Jakarta & Jakarta, hadiah kedua), Aldian Arifin (film Di Sarang Naga, hadiah ketiga), Marselli (film Menunggu) dan film Tuan Alucard itu Dracula karya Bernice (keduanya hadiah harapan), tak ada pemenang pertama untuk kategori 8mm. Selain itu juga tak ada hadiah ketiga dan harapan kategori 16mm yang hadiah pertamanya dimenangkan Otje Ardilaga (film Tukang Koran).

Ketidakadanya pemenang pertama ini cukup beralasan. “Banyak film yang dikirim sebagai wahana cerita belum cukup dikuasai dan sering merupakan letupan emosi tanpa perenungan dan penghayatan sebagai karya yang berbobot,” tulis Wahyu Sihombing dalam pidato keputusan dewan juri Sayembara Film Mini DKJ 1980. Ada cerita lucu pada Sayembara Film Mini DKJ 1980 yang jurinya antara lain Sutomo, Chalid Arifin, dan Wahyu Sihombing. Mungkin karena terbatasnya referensi, beberapa peserta dari luar daerah Jakarta seperti dari Aceh, Palembang, dan Surabaya ada yang mengirimkan film dokumentasi kawinan! Selain dokumentasi kawinan pada tahun 1981 ada juga peserta mengirimkan potongan film karya tokoh perfilman Salim Said yang pada waktu itu Salim adalah salah satu jurinya!

Ada pula peserta yang mengirimkan film dengan format film cerita ala produksi PT. Sarinande Films yang tengah populer saat itu. Akibatnya durasi bahkan materi tak dipikirkan matang-matang peserta dari luar daerah Jakarta, beda di zaman sekarang yang karena sudah banyak film iklan dengan durasi 1-2 menit atau video klip yang pendek, wawasan format dan materi sesungguhnya film pendek dipahami pembuatnya.


Pemenang pun akhirnya lebih didominasi peserta dari IKJ yang beruntung bisa menonton referensi film pendek dari luar negeri (salah satunya diperkenalkan D.A Peransi yang sempat studi film di Belanda) atau menonton film asing yang ditayangkan Kine Klub (klub penonton film festival) pertengahan tahun 1980-an.

Sayang, sayembara tersebut hanya berlanjut sampai tahun 1981. “Saat itu Pemda DKI, tepatnya ketika Gubernur DKI yang menjabat adalah Tjokropranolo menganggap sudah saatnya seniman mampu mencari dana sendiri tanpa dibiayai pemerintah sehingga subsidi yang cukup besar untuk kesenian semasa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin pada pemerintahan Tjokropranolo dikurangi. Jelas ini sulit karena sejak awal diadakannya sayembara film mini juga kesenian lainnya mendapat subsidi,” kata Gotot Prakosa yang kini menjabat sebagai Ketua Komite Film DKJ.

Cinta Dalam Negeri atau Hollywood?

Meski sayembaranya ditiadakan sejak 1981, pemerintah masih menggunakan film pendek sebagai alat propaganda. Diantaranya film Gelora Pembangunan produksi PFN (Perusahaan Film Negara) yang diselipkan pada pemutaran film bioskop, terutama bioskop kelas atas. Lucunya pemutaran film ini terlihat lebih gencar terutama pertengahan tahun 1991 ketika MPEAA (Motion Picture Export Association of America) mengedarkan langsung film Hollywood ke Indonesia.


Sungguh ironis ketika pemerintah giat menggaungkan slogan “cinta produk dalam negeri” malah menerima kedatangan MPEAA yang dikhawatirkan dapat membanjiri pasar film bahkan sampai mengatur waktu pemutarannya. Dua tokoh perfilman HM Djohan Tjasmadi dan Asrul Sani dalam buku Layar Perak 90 Tahun Bioskop di Indonesia kala itu menolak tegas datangnya MPEAA di Indonesia karena dapat menimbulkan persaingan tak sehat.

Sayembara boleh berhenti tapi produksi film pendek tak bisa dikatakan lenyap dengan banyak munculnya kegiatan non kompetisi seperti Forum Film Pendek yang dibentuk Hartanto Mualim di Departemen Sinematografi IKJ pada 1981. Salah satu kegiatannya selain menayangkan film dan diskusi, juga mencoba membuka jalur distribusi sendiri ke luar negeri.
Perjalanan film pendek kita ke luar negeri diawali 25 Februari 1984 dalam Festival Film Pendek di Oberhausen, Jerman. Film-film yang ditayangkan waktu itu adalah karya Gotot Prakosa (A Film of Family Planning dan The Line), Enison Sinaro (Jakarta & Jakarta), Otje Ardiwilaga (Tukang Koran), Duddi (Keluarga Abdullah), dan Ida Bareh (Obsesi).

Forum sejenis juga dilakukan di berbagai tempat seperti di Bandung dan Yogyakarta, namun kebanyakan lebih bernuansa Kine Klub (klub penonton film) yang juga menjalar ke berbagai tempat seperti terbentuknya Forum Film Bandung. DKJ sendiri melalui komite filmnya juga membentuk Kine Klub pertengahan 1980-an. Kegiatan macam ini tak bertahan lama walau sempat digiatkan kembali pertengahan 1990-an di Pusat Perfilman H.Usmar Ismail (PPHUI).
Ketika pertengahan 1990-an hingga awal tahun 2000 produksi film nasional sebelum mati suri kebanyakan menonjolkan seks, mistik, dan kekerasan yang sudah menjadi sajian utama, produksi film pendek nyaris tak terdengar.

Bukan Sekolah Film

Mira Lesmana dan kawan-kawan (Nan.T.Achnas, Rizal Mantovani, Riri Riza) yang tergabung dalam kelompok “Day for Night” pada tahun 1997 membuat film Kuldesak yang terdiri dari empat cerita yang digabung menjadi satu. Kemunculan mereka yang terinspirasi dari sineas Quentin Tarantino ketika membuat film berjudul Four Rooms ini banyak dibicarakan sebagai tonggak awal bangkitnya kembali produksi film nasional (karena dibuat ketika kondisi film nasional sedang sekarat) juga film pendek karena pada intinya menggabungkan empat cerita dan gaya sineasnya sendiri-sendiri yang oleh Seno Gumira Adjidarma disebut sebagai “Sinema Gerilya” (Media Indonesia, 14 Maret 1997).

Komunitas Film Independen (Konfiden) adalah salah satu komunitas yang pertama menggairahkan festival film pendek pada Oktober 1999 di Pusat perfilman H.Usmar Ismail (PPHUI) sejak Sayembara Film Mini ditiadakan. Dari festival yang diadakan Konfiden (Festival Film Video Independen, FFVI) mencuat pertama kali istilah “film independen” yang kemudian menjadi populer bahkan mengilhami komunitas lain untuk membuat festival sejenis seperti Nawa di Yogya atau PopCorner di Jakarta pada awal tahun 2000-an. Kalau Konfiden dan Nawa tak mematok usia pesertanya, festival yang diadakan PopCorner tahun 2000 mematok peserta di tingkat usia lebih muda lagi, yaitu pelajar SMA.

FFVI pertama ini memunculkan favorit pilihan juri karya ‘borongan’ sutradara muda Tendon, Radia, dan Mabro dari SMU Gonzaga dalam film berjudul Sudah Sore! Sebentar Lagi Jam Lima! Cepat Pulang. Salah satu pemerannya, Dennis, bahkan pada tahun 2003 lalu sempat membuat film komedi Kwaliteit No.2 yang beredar di bioskop. Dari festival yang diadakan Konfiden menjadi motivasi kuat untuk membuat film dengan biaya lebih murah atau dapat berkarya lebih mudah lewat teknologi yang ada untuk mengakomodasi potensi kreatif yang semula hanya tersentuh dari kalangan sekolah film saja.


“Memang karya peserta ketika zaman Sayembara Film Mini jika dibandingkan sekarang sangat jauh. Apalagi dari segi teknis. Tapi, meskipun pesertanya dulu amburadul, pada tahun 2002 ketika SCTV menyelenggarakan Festival Film Independen Indonesia (FFII) masih ada juga peserta yang mengirimkan karya dengan panjang 70 sampai 90 menit atau mengirim film cerita persis sinetron di televisi,” jelas Gotot.

Meski masih amburadul, Gotot menilai film pendek yang dibuat sineas sekarang terutama dari daerah luar Jakarta memiliki keunikan tersendiri dengan menonjolkan lokalitas daerahnya. Misalnya film A Dog Life dari Padang Panjang atau Anak Kertas dari Surabaya. Keduanya sempat menjadi pemenang FFII 2003 lalu. “Nilai budaya lokal dan problematiknya bisa tak ditandingi oleh alam kota metropolitan di kota besar,” kata Gotot mengomentari kedua film tersebut.

Tak Terbendung

Geliat film pendek yang populer menjadi film independen sendiri makin tak terbendung. Terhitung ada 1700 peserta dari berbagai kabupaten yang tercatat dalam FFII 2002 dan 2003 yang diselenggarakan stasiun televisi SCTV. Pesertanya pun dari berbagai profesi sehingga menunjukkan penyebaran budaya film pendek berkat kemudahan teknologi, masuknya siaran MTV, film iklan, video klip, internet, kamera digital bahkan ponsel membuat pesertanya makin melebar dan memberi pengaruh pada pertumbuhan film pendek Indonesia.


Komunitas film pun bermunculan dengan idealisme antara peminat film atau pembuat film. Misalnya Q-Community yang mengkhususkan diri pada penonton dan pembuat film gay-lesbian, Animator Forum untuk para pembuat film animasi, I-Film yang mengkhususkan diri pada pemutaran film di luar Hollywood, dan banyak lagi.

Munculnya berbagai komunitas ini tak sia-sia. Misalnya komunitas Fourcolors Films dari Yogyakarta sempat mencuri perhatian juri FFI 2002 lewat film Mayar yang meraih penghargaan SET Award dan FFVII ke 4 tahun 2002. Pada FFI 2004 kategori film Fiksi Pendek menghasilkan film Djedjak Darah:Surat untuk Adinda karya M.Aprisiyanto sebagai pemenang dan Everything’s OK karya Tintin Wulia sebagai film favorit juri.

Selain berhasil mencuri perhatian, beberapa film pendek dokumenter karya sineas “bukan produk sekolah film” juga melancong ke festival luar negeri. Misalnya Macet karya Ekky Imanjaya diputar di Thailand dalam acara Sustainable Urban Transport Project dan Seoul, Korea dalam acara Public Access Festival. Ada pula film dokumenter tentang suporter sepakbola Indonesia berjudul Hardline dan Jakarta Kota karya Andy Bachtiar Yusuf yang diputar dalam festival film Singapura. Juga ada Ben (2005) produksi anak-anak SMA Bandung yang tergabung dalam Forum Filmmaker Pelajar Bandung membuktikan ada juga film indie punya bobot cerita secara runut juga humor bukan sekadar permainan eksperimen belaka- kesan yang kemudian sempat terpatri di benak penonton awam. Di luar itu tentu saja masih ada yang lain dengan keunikan dan prestasi tersendiri. Catatan-catatan tersebut menandai prestasi pun dapat diraih dengan baik dari komunitas film yang lahir di luar sekolah film kata Marselli Sumarno, pengajar Fakultas Film Televisi (FFTV) IKJ.

Sayang, meski festival film pendek mulai diadakan lagi (diantaranya tahun 2003-2004 bekerjasama dengan SCTV) membuka peluang banyak komunitas film untuk tumbuh, terbetik kabar festival tersebut tak diadakan dengan alasan sepi sponsor. Padahal pada pelaksanaannya biaya lebih banyak dihabiskan hanya untuk kegiatan seremonial kelewat mewah dengan menghadirkan artis penghibur. Memang industri televisi misalnya MTV memberi banyak pengaruh terhadap perkembangan film pendek. Gotot menilai penyikapan seperti ini terlalu jauh memerlakukan film pendek sebagai komoditi. *

Majalah F, No.04/April-Mei 2006

Film Lokal Rasa Internasional


Artikel ini ditulis bersama
Enison Sinaro, sineas & pemimpin umum majalah film F

Mungkin masih jauh panggang dari api mengharapkan film kita mendapatkan perhatian secara internasional, walau dalam sejarah perfilman nasional yang tua ini, bukan berarti tiada film kita punya nyali di pasar internasional.


Indonesia sudah dari dulu memancing minat orang asing untuk dibuatkan film. Adalah Max Havelaar (Saijah dan Adinda, 1975) yang mengawali produksi lokal rasa internasional itu. Tentu saja film ini diproduksi karena Belanda punya sejarah historis panjang di Indonesia. Anehnya walau secara kualitas film ini cukup baik, karya bersama sutradara Fons Rademakers dan Mochtar Soemodimedjo yang diangkat dari novel Multatuli ini tertahan sepuluh tahun di BSF. Tak jelas sebab musabab film berlatar sejarah ini sampai tertahan begitu lama di BSF. Apakah karena dengan diedarkannya film ini bakal membangkitkan luka lama bangsa kita tentu tak bisa menjadi kebenaran mutlak.

Tapi, sejarah produksi lokal rasa internasional sebenarnya lebih ramai pada 1980-an terutama ketika di masa itu Indonesia menjadi lahan empuk pemasaran film kategori B (B singkatan dari “bad movies”, film untuk konsumsi bioskop pinggiran dan drive in, teater mobil) Hollywood bahkan Eropa. Dan kala Indonesia masih ada Teater Mobil di kawasan Ancol, masuknya film-film jenis ini (kebanyakan laga yang merupakan epigon film kelas A) sangat disukai penonton kita.

Penonton pada masa itu tentu tak dapat melupakan film macam Last Blood (epigon Rambo: First Blood), Thunder, The Centurions, dan lain-lain dari Italia, termasuk film jenis ‘spaghetti western’ dan film horor ala Dario Argento. Sedangkan dari Hollywood diimpor film-film produksi Cannon Group besutan duet paman-keponakan Menahem Golan dan Yoram Globus yang sukses mendongkrak ketenaran bintang laga Chuck Norris sampai Jean Claude Van Damme di masa awal kariernya. Rusia pun tak ketinggalan. Karena kerap dibuat sebagai pihak musuh dalam film Amerika lahirlah Russian Rambo.

Film kategori ‘B’ yang karena ceritanya mudah dan lebih banyak adegan laga mengilhami perusahaan film kita macam Rapi Films, Parkit Films, dan Soraya Intercine Films-ketiganya perusahaan film besar- untuk ikut-ikutan membuat film laga lokal dengan rasa internasional. Dan ketika terbuka kesempatan menjalin kerjasama dengan pihak asing, film laga dengan menonjolkan seks atau kekerasanlah yang diproduksi.


Bule dalam Film Nasional

Memori kolektif yang pendek dengan harapan meraih keuntungan cepat adalah dasar untuk membuat film jenis ini setelah sebelumnya menggunakan bintang asing seperti Kristine E.Weitz dalam film komedi erotik Permainan yang Nakal (1986), Barbara Contastable dalam Lady Terminator (a.k.a Pembalasan Ratu Laut Selatan, 1988), yang beranjak pada kerja bareng produksi bersama seperti Peluru dan Wanita (1987), Pertarungan (a.ka. Blood Warriors, 1992), film-film yang dibintangi bintang laga Cyndi Rothrock, Richard Norton, Paul Hay, David Bradley, Christ Mitchum, Frank Zagarino, dan Billy Drago.

Film dengan konsep “menghibur diri sampai mati”- meminjam istilah Neil Postman- pasarnya cukup besar, bahkan beberapa diantaranya toh diedarkan di Asia dan Eropa. Konon Gope Samtani, produser Rapi Films, sempat bertualang membuka stan filmnya ke festival film internasional untuk menjual film macam Blood Warriors setelah sebelumnya memasang bintang laga Cyndi Rothrock di berbagai produksinya.

Jangan salah, dalam ajang internasional itu semua berhak dapat tempat, apalagi untuk film-film indie. Dan di sana, film yang diboyong Rapi Films digolongkan bersama stan-stan film independen. Semisal Blood Warriors yang dibintangi David Bradley dan Frank Zagarino (keduanya adalah aktor laga kelas B di Hollywood). Film kerja bareng Rapi Films juga melibatkan Sam Firstenberg, sutradara penghasil American Ninja yang menjadi box office di negeri ini. Juga Lady Terminator yang sempat menuai kontroversi dengan begitu sarat adegan seks-kekerasan yang sudah bukan menjadi bumbu, sehingga ditarik lagi dari bioskop Indonesia.
Adalah Peluru dan Wanita yang merupakan kerja bareng produser Raam Punjabi dan produser Amerika, Lloyd Kauffman. Film ini sempat dipromosikan secara bombastis sebagai film nasional pertama yang menggunakan tata suara ultra stereo (sejenis dolby stereo, maksudnya). Film yang bujetnya cukup besar ini dibintangi Christopher North yang berperan sebagai mantan anggota CIA. Dibantu polisi Indonesia yang dibintangi Frans Tumbuan, North berusaha mengubek sindikat narkotik internasional yang ceritanya sedang beroperasi di Indonesia.
Adegan kejar-kejaran dan tembakannya cukup seru. Film ini juga melejitkan kelompok stuntman Indonesia yang tergabung dalam Peti Mati 13. Karena begitu beraninya, kelompok yang diketuai spesialis pemain pengganti Eddy Hansudi ini sampai dijuluki “nekat in”. Sosok Eddy Hansudi malah kurus, bahkan seperti kakek-kakek. Tak jelas apakah sosok pemberani ini masih hidup atau jangan-jangan sudah meninggal karena begitu nekatnya.

Yang Lokal di Film Bule

Setelah era 1980-an berakhir, tak banyak produksi kerja bareng lagi dilakukan. Kalaupun ada, pihak asing muncul sebagai lembaga donor. Misalnya Perancis membiayai Telegram (1997) yang disutradarai Slamet Rahardjo Djarot. Sisanya kebanyakan film-film dokumenter macam Garuda’s Deadly Upgrade yang mengisahkan terbunuhnya aktivis HAM, Munir.

Sebelumnya ada film Oeroeg (1992), produksi patungan Belanda, Jerman, Belgia, dan Indonesia (Prasidi Teta Film) denagn pemain lokal Ayu Azhari, Adi Kurdi, Jose Rizal Manua, HIM Damsyik, dll. Film yang disutradarai Hans Hylkema berdasarkan novel Hella S Hasse ini bercerita tentang hubungan anak belanda dengan anak Indonesia dari kecil hingga dewasa, dengan konteks kemerdekaan Indonesia. Film ini menarik untuk didiskusikan lebih lanjut karena di Indonesia diputar sampai 2-3 kali dalam rangka merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Padahal ending film tersebut seperti tersirat mau bilang, kemerdekaan Indonesia itu adalah hadiah dari Belanda. Sangat beda dari visi novelnya.

Ada lagi film Victory, yang bercerita tentang percintaan saudagar Inggris yang tinggal di Soerabaia dan beradgang sampai ke Madura tahun 1920-an. Mengambil lokasi syuting di Pasuruan dan sekitarnya. Karya perdana Mark Peoploe ini, dikenal sebelumnya sebagai penulis skenario The Last Emperor dan Buddha, dibintangi aktor hebat Willem Dafoe, Sam Neil, dll. Pemain local hanya kebagian sebagai ‘Extras’. Sayang, film ini tidak masuk peredaran di Indonesia, hanya ‘nongol’ di VCD bajakan.

Meskipun demikian, bukan berarti pamor Indonesia di mata internasional surut. Beberapa film Hollywood menggunakan Indonesia sebagai setting atau hanya disinggung sepintas lalu. Sebutlah The Years of Living Dangerously yang diangkat dari novel mantan jurnalis Australia, Christopher Kouch. Film berlatar Jakarta tahun 1965 ini dibintangi Mel Gibson dan Sigourney Weaver. Sayang, ketika film ini diproduksi gagal menggunakan pemain atau setting Indonesia sebenarnya lantaran pemerintah kita urung memberi ijin. Setting juga para pemain pendukung digantikan orang Filipina sehingga beberapa kejadian terasa janggal jika dilihat penonton Indonesia. Misalnya mobil dengan setir kiri sedangkan di Indonesia menggunakan setir kanan. Pemeran Presiden Soekarnonya pun jauh dari mirip. Film ini baru bergaung dalam pemutaran di Jiffest 2002 diikuti peredaran VCD-nya.

Sedangkan dalam King Kong (1976) yang dibuat oleh Dino de Laurentiis pada bagian awal film ini bersetting di sebuah pelabuhan di Surabaya. Pada film Die Hard (1988) Jakarta disebut sebagai daerah tujuan bisnis konglomerasi yang dilakukan di gedung mewah Nakatomi Plaza. Juga dalam film The Island of Dr. Moureau (dibintangi Val Kilmer dan Marlon Brando) yang diangkat dari novel klasik H.G Wells, dalam salah satu adegannya memerlihatkan nahkoda kapal Indonesia dengan nama “Ombak Penari”. Selanjutnya, sekitar tahun 1988 di Bali berlangsung syuting dengan altar certa entang eksotisme pulau Bali. Film berjudul Beyond the Ocean ini disutradarai oleh Ben Gazzara (Itali). Pemain lokalnya ada Gito Roliies (supporting actor). Kru dan pemain lokal pada senang karena dibayar cukup tinggi buat ukuran saat itu. Honor dolar!
Yang mengejutkan sekitar tahun 2002 ada orang Indonesia main dalam produksi film porno. Sepintas meragukan lantaran profil kita hampir mirip orang Malaysia, Thailand dan Filipina. Tapi, Jade Marsella, (demikian namanya) setelah sebelum melakukan adegan seks berdialog dengan dialek Jawa makin meyakinkan bahwa memang ada bintang porno Indonesia di jagat internasional!*


Majalah F, edisi 03/Februari-Maret 2006

Selingan Buat Penggila Film

Judul The Book of Dumb Movie Blurbs
Penulis Jeff Rovin
Penerbit Berkley Books, New York, 2005
Isi 90 hlm.

Kemampuan manusia untuk bermain-main memang mengagumkan. Kalau Inggris punya buku humor The Idiot Book (1991) besutan Ian Walsh yang isinya gabungan antara parodi dan humor dengan memplesetkan kuis, anekdot, teka-teki yang diolah menjadi komik humor garing, maka dunia film Hollywood Amerika punya The Book of Movie Blurbs karya Jeff Rovin, penulis novel-novel fiksi ilmiah asal New York dan beberapa karya novel movie tie-in, film yang diolah menjadi novel.

Jangan salah, buku ini bukan ulasan kritik film ala Roger Ebert, kritikus film senior yang sangat dihormati itu, atau kajian budaya seperti buku Hongkong Babylon karya Fredric Dannen. Ini adalah buku kumpulan blurb, komentar dan uraian singkat sebagai perkenalan atau teaser yang terpampang di poster film sebagai iklan.

Lucunya, blurb yang dikumpulkan Jeff Rovin sangat beragam. Ia mengumpulkannya mulai dari film klasik, film kelas A, B, sampai Z ! Kalau film B (bad movies) yang tujuannya adalah epigon film kelas A yang sudah populer, perlu diketahui film kelas Z (istilah kerennya adalah schlock, film yang menonjolkan seks, kekerasan, dan kekonyolan) adalah jenis film pelipur lara dengan selera rendah yang dibuat untuk konsumsi penonton bioskop pinggiran dan drive-in (teater mobil). Bisa ditebak, alasan Rovin mengumpulkan blurb film ke dalam buku kecil ini sekedar dagelan saja. Tapi, jangan pandang remeh dulu. Beberapa blurb yang dikumpulkannya memang mengandung kalimat konyol, satu hal yang mungkin tak disadari pembuat iklan filmnya. Sebutlah, blurb film The Naked Gun: "You’ve Read The Ad- Now See The Movie!" (Anda Sudah Baca Iklannya-Sekarang Tonton Filmnya!), Wayne’s World: "You’ll Laugh, You’ll Cry.You’ll Hurl" (Anda Akan Tertawa. Anda Akan Menangis. Anda Akan Melempar).

Jika Anda mengetahui film tersebut atau setidaknya pernah nonton, pasti akan merasa ganjil, terutama dari logika bahasa. Sebutlah, blurb film komedi The Naked Gun. Kalau Anda melihat iklan, atau setidaknya posternya di tempat umum, jika merujuk blurb tersebut jadi Anda sekarang, misalnya melihat poster itu di halte bus sedang melihat filmnya? Atau Wayne’s World. Kata "hurl=melempar" justru sangat tidak tepat jika maksud si penulisnya adalah "terguncang karena tertawa terbahak-bahak" atau perasaan exciting, ketertarikan yang meluap. Kalau benar maksudnya begitu kenapa tidak menggunakan kata lain, misalnya thickled (geli)?


Itu baru dari khasanah film kelas A, sedangkan dari khasanah film kelas B simaklah blurb film Popcorn: "Buy a bag…go home in a box" (Membeli dalam tas…pulang ke rumah di dalam kotak) dan film Re-Animator: "Herbert West has a very good head on his shoulders-and another one in a dish on his desk" (Herbert West punya kepala yang baik di atas bahunya- dan satunya lagi dihidangkan di atas mejanya).Jika Anda pernah menonton film horor Re-Animator, Anda akan menyaksikan ilmuwan Herbert West yang terobsesi bak Dr.Frankenstein menghidupkan mayat. Ia menciptakan berbagai alat canggih untuk menghidupkan mayat. Tapi alangkah menggelikannya dari kalimat blurb tersebut, terlihat penulisnya jangan-jangan memang tidak menonton filmnya sehingga logika manusia hanya punya satu kepala (maksud kalimat blurb "a very good head" adalah seorang yang sangat cerdas hingga kalau dikontekskan dengan film ini karena begitu cerdasnya bisa menghidupkan mayat) terjungkal dengan kalimat berikutnya yang mengatakan kepala satunya lagi ada di atas meja kerjanya!

Memang, maksud buku ini adalah humor. Tapi ini bukan sembarang humor atau Rovin tengah menunjukkan beberapa kesalahan bahasa yang sangat jauh konteksnya dengan film yang sedang diiklankan. Rovin juga menunjukkan blurb film yang baik, hiperbolik, selain tolol seperti blurb The Naked Gun atau Re-Animator tadi. Untuk blurb film yang singkat, jelas, tapi juga baik sebutlah film Home Alone: "A family comedy without the family" (Sebuah komedi keluarga tanpa keluarga) atau film horor Child’s Play 3: "Look who’s stalking" (Lihat, siapa yang sedang mengikuti). Pada film Home Alone yang sangat terkenal itu, kita tahu film ini mengisahkan seorang bocah yang ditinggal sendirian tapi mampu menghadapi bandit-bandit yang hendak merampok rumahnya. Oleh karenanya, blurbnya sungguh tepat: sebuah film komedi keluarga segala umur tentang kehidupan keluarga tanpa keluarga sesungguhnya lantaran si bocah yang diperankan Macaulay Culkin sejatinya sedang sendirian. Atau film Child’s Play 3 dengan memplesetkan kalimat terkenal yang juga pernah jadi judul film komedi yang pernah dibintangi John Travolta, Look Who’s Talking (1989).

Buku ini unik, walau metodenya sungguh sederhana saja. Yang patut dipuji adalah idenya yang nakal juga liar sehingga bagi kolektor film bisa tersenyum. Selain humor, barangkali bagi seorang produser film atawa bagian pemasaran, humas, dan publisis dapat melihat contoh blurb dan tagline film yang tepat (juga ngawur) agar film yang diproduksi tak diserbu kritik konyol hanya karena blurbnya meleset. Meski terbilang lengkap, ada film klasik lain yang sayangnya tidak tercantum. Misalnya Rambo: "No man, no law. No war can’t stop him" (Tiada orang lain lagi, tiada hukum. Tiada perang yang dapat menghentikannya) atau The Mask: "from zero to hero" (dari bukan siapa-siapa menjadi hero).

Namun, untuk menikmati humor satir di buku ini harus menyiapkan pengetahuan memadai berbagai film, entah itu yang pernah kita tonton maupun hanya kita baca atau pernah dengar sehingga dapat merasakan kelucuan sekaligus kecerdasannya. Jadi, Anda jangan mengaku movie buff- penggila film jika belum membaca buku ini.*


Layar Perak.com, 19 Oktober 2004

Cut: Novel Mengikuti Film

Pengaruh dari karya-karya sastra yang difilmkan selama ratusan tahun sangat luar biasa. Kritik-kritik yang sering terlontar adalah para novelis cenderung menuliskan penjabarannya tak seutuh yang ditulis oleh para penulis pada abad ke-19. Misalnya, bab pertama novel Stendhal, Red and the Black (1830) antara lain menceritakan gambaran sebuah kota propinsi di Perancis, sampai ciri-ciri topografinya, dasar perekonomian, figur walikota, rumah walikota yang megah dan besar, taman-taman di sekeliling rumah besar itu dan seterusnya. Dalam bukunya Sanctuary (1931) Faulkner mengawali tulisannya dengan : “Dari balik semak-semak yang mengitari mata air itu, Popeye melihat pria itu sedang minum.”

Novel abad 21 cenderung mengurangi wacana yang menonjolkan latar, riwayat hidup para tokoh, dan semacamnya. Penulis cenderung menggabungkan semua informasi penting dalam tindakan, kemudian menuangkannya dalam narasi seperti yang dilakukan dalam film.

Tentu saja ada karya-karya abad 19 yang langsung menuju sasaran, misalnya novel Mark Twain Tom Sawyer. Mungkin para penulis Amerika sudah terbiasa dengan gerak cepat, berbeda dengan penulis dari Eropa. Namun deskripsi yang minim itu benar-benar mengandaikan adanya semacam filmic compact (kedekatan hubungan seperti halnya dalam film) antara penulis dan pembaca, sehingga semuanya menjadi jelas pada akhirnya.

Di balik itu, munculnya seni film bersamaan dengan kecenderungan para novelis memahami sebuah karangan bagaikan sebuah komposisi yang tidak simponik tetapi bersuara tunggal (solo voiced), sebagai karya personal yang intim, sebagai ungkapan berfungsinya kesadaran. Hal penting yang patut dicatat adalah bahwa menjauhnya novel dari realisme adalah akibat dari keberadaan film yang mengamati dunia secara luar biasa sehingga bentuk novel semakin rumit.

Pengaruh besar lainnya terkait dengan peralatan utama film, perubahan ruang dan waktu secara cepat: yaitu cut. Para penulis zaman sekarang mendapatkan segala macam pengaruh dari kurangnya informasi atau dari peralihan, yang menjadikan ceritanya bergerak dari satu tokoh ke tokoh lainnya, atau pergerakan tokoh-tokohnya dari satu tempat ke tempat lainnya, atau dari kemarin ke tahun berikutnya. Pergerakan yang lebih fatal terjadi karena pelanggaran aturan-aturan gramatikal sehubungan dengan orang atau waktu.

Namun setelah kira-kira seratus tahun mungkin film tidak lagi dapat berbuat banyak (berpengaruh) untuk sastra dibandingkan sebelumnya. Sekarang, film telah mulai menampakkan sifat dasarnya yang tanpa teks sehingga menunjukkan kaidah atau konvensinya sebagai sebuah bentuk seni tersendiri, seperti halnya lukisan.

Film dimulai dengan film bisu. Para produser film terdahulu mempelajari bagaimana menyampaikan pesan selain menggunakan bahasa. Kebanyakan teks (title cards) film bisu hanya memberikan informasi kepada penonton secara non verbal. Misalnya pada suatu malam, dengan penerangan remang-remang, sepasang muda-mudi duduk di ayunan. Si pemuda mengambil sebuah cincin dari saku bajunya. Dia menatap mata kekasihnya. Pada teks tertera : Milly, maukah engkau menjadi istriku?

Pada film bersuara yang modern, khususnya film-film Hollywood, dialog lisan cenderung semakin berperan seperti teks yang digunakan dalam film bisu. Genre film ini ditandai dengan adanya teks yang menceritakan kejadian dalam film. Adegan pembukaan menunjukkan periode waktunya. Pada sebuah adegan, kamera diatur untuk menciptakan suasana tertentu atau memberitahu penonton mengenai apa yang sedang mereka saksikan, seberapa serius atau tidak serius cerita dalam film itu, bagaimana kita memandang tokoh-tokohnya secara obyektif, seberapa dekat kita diajak untuk ikut dalam petualangan mereka dalam film.

Biasanya produksi film disesuaikan dengan tema atau pesannya. Para aktor berpakaian sedemikian rupa dan rambut mereka dipangkas dan ditata dengan gaya yang dapat menunjukkan usia, kelas, ekonomi, status sosial, pendidikan bahkan tingkat budi pekertinya. Mereka diarahkan untuk menunjukkan keadaan pikiran para tokoh melalui gerakan tubuh, sikap, mimik muka dan gerakan mata. Dengan cara ini, bobot atau pesan adegan disampaikan secara non verbal. Apa yang dilihat dan dirasa adalah sebuah konteks penanda untuk setiap kata yang dikatakan. Pada beberapa film drama sekarang ini, 95% dari isi adegannya bisa dimengerti sebelum sebuah kata diucapkan, 98% lainnya jika ditambah dengan musik.

Tentu saja, sutradara-sutradara sekarang ini, seperti Eric Rohmer atau Louis Malle telah membuat film-film yang sangat verbal. Dan umumnya penggabungan efek visual yang membuat dialog menjadi capstone. Acara komedi situasi di televisi, misalnya, bersifat sangat verbal. “Standing set” dan kecenderungan komedi situasi untuk menonjolkan tokoh menimbulkan kesempatan untuk bermain kata, lelucon, yang semuanya sudah diketahui orang. Sebaliknya, sebagian besar situasi dalam ruang dan ruang lingkup kamera yang terbatas pada komedi situasi menimbulkan kesan bahwa acara itu mirip dengan teater yang kemudian dibikin film daripada mirip dengan film bioskop.

Pada tahun 1930-an dan 1940-an, ketika drama dan novel menjadi sumber utama naskah film, dialog di buku sumber juga merupakan dialog dalam film (adaptasi drama Shakespeare sampai sekarang pun masih begitu). Film pada masa itu, jika dibandingkan dengan film sekarang, bersifat sangat logorrheic. Bahkan film-film laga seperti film Bogart, film Errol Flynn, terikat dengan dialog-dialog. Sekarang, setelah abad kemajuan, media film menciptakan kebudayaan film tersendiri. Penontonnya dididik untuk mengenal ritme dan motif dalam film itu sebagaimana halnya aliran Wagner di der Nibelungen. Film-film baru menggeser kedudukan film-film lama. Film baru memiliki banyak ragam dan akan terus berkembang dengan sendirinya.

Bahasa sastra menambah wawasan dalam wacana. Bahasa sastra berkembang dalam pikiran melalui kata benda, kata kerja dan obyek. Bahasa sastra itu sifatnya berpikir, analitis. Itulah sebabnya istilah film language (bahasa film) selalu berubah dan dinamis. Film merealisasikan ide dan tergantung pada kesan dan pemahaman visual. Menonton film adalah tindakan yang pada akhirnya menimbulkan suatu kesimpulan. Anda menerima apa yang anda saksikan sebagai efek sensual yang merangsang kecerdasan non verbal intuisi Anda. Anda memahami apa yang Anda lihat tanpa harus memikirkannya dengan kata-kata.

Apa yang sebaiknya kita lakukan dengan semua ini? Sekarang film sudah merambah ke segala penjuru. Jumlah film yang diproduksi banyak sekali. Film terdapat di bioskop, televisi, melalui saluran televisi kabel, video, CD dan DVD. Film itu ditayangkan di seluruh penjuru dunia melalui satelit transmisi; film tersebut disulih-suarakan dan diterjemahkan, dan bahkan film dari segala masa tersedia sebagaimana halnya buku di perpustakaan. Popularitas film menjangkau semua lapisan kelas sosial dan tingkat pendidikan. Para produser film itu adalah para konglomerat yang telah menghabiskan banyak uang dalam pembuatan film dan berharap mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari keberhasilan film itu di pasaran.

Bukan berarti film hebat dan penting tidak akan dibuat lagi. Namun kita dapat membayangkan sebuah kombinasi estetika film dan hasrat meraup keuntungan (terlepas dari keseriusan si pembuat film) mempengaruhi kebudayaan secara keseluruhan. Film mempengaruhi keberadan budaya itu dalam penampilan pakaian atau kostum yang indah juga trik pewarnaan. Dan hanya film verbal saja yang secara kebetulan dapat memuaskan selera pasar dengan menyuguhkan mitos-mitos masyarakat yang hanya sedikit berubah setiap kali ditayangkan. Film seperti itu disusun atas unsur-unsur dasar: adegan kejar-kejaran mobil, interior, eksterior, wajah para aktor, dan adegan ledakan dalam film itu.

Sebagaimana pentingnya kebudayaan di masa depan, biaya produksi film digital dan komputerisasi akan menurun. Tak sulit untuk memahami bahwa hal yang mendorong seorang anak muda untuk berkreasi dalam memproduksi film, karena itu akan sama saja dengan menulis sebuah cerita.

Film, entah diproduksi secara perorangan atau kelompok, dapat menggeser kedudukan bahasa sebagai sarana komunikasi penting dalam kebudayaan kita. Dan menurut saya, hal itu tak jadi soal.

Beberapa kritik paling bijaksana - jika tidak bisa disebut dengan kritik cerdas - yang terang-terangan yang ditulis sekarang ini adalah kritik yang ditulis oleh para kritikus film yang menyatakan bahwa mereka telah sia-sia mengeritik film. Film yang terkesan paling bodoh pun akan menimbulkan analisis yang meyakinkan. Mengapa? Bisa saja film seperti itu yang wajib dikritik. Namun film itu kemudian bisa jadi menegaskan kembali dan mempertahankan kebudayaan tulis menulis dengan menjadikan film tanpa-teks sebagai subyek, entah film itu bagus atau tidak, bagi perluasan wawasan bahasa.*

E.L Doctorrow adalah seorang penulis cerpen dan novelis terkemuka dalam kesusasteraan Amerika modern. Beberapa cerpennya sering dipublikasikan di majalah The New Yorker. Karya-karyanya yang sudah terbit adalah novel Billy Bathgate, Sweet Land Stories, dan City of A God. Novel Billy Bathgate pernah difilmkan tahun 1991 oleh sutradara Robert Benton. Film ini diperankan aktor-aktris ternama seperti Dustin Hoffman, Nicole Kidman, Bruce Willis dan Steve Buscemi.

Artikel ini diterjemahkan oleh Donny Anggoro untuk Layarperak.com dari Quick Cuts: The Novel Follows Films into a World of Fewer Words, dalam Writers on Writing, The Collected Essays from The New York Times terbitan Times Books, Henry Holt and Company New York, 2001.

Layarperak.com, 11 Juni 2004

Keriuhan Mini Kata dalam Les Triplettes de Belleville

Champion adalah bocah yang diadopsi neneknya, Madame Souza. Sang nenek yang melihat Champion punya bakat bersepeda mengikutsertakannya ke dalam lomba Tour de France yang termashyur itu. Champion digembleng sang nenek menjadi atlit dengan program latihan yang keras dan disiplin.


Tatkala perlombaan berlangsung Champion dan tiga peserta lainnya diculik dua tokoh misterius yang belakangan terungkap sebagai bagian dari sindikat mafia Perancis. Madame Souza dan anjing setianya, Bruno mulai menjelajah mencari sang cucu hingga terdampar ke sebuah kota megapolitan Bellevile. Luntang-lantung mencari sang cucu, dalam perjalanan jauh itu Madame Souza bersua dengan trio bintang musik Belleville yang legendaris dari era 1930-an.
Bersama trio eksentrik yang sudah gaek ini mereka bersama-sama mencari Champion, selain Madame Souza sendiri ikut tampil pula di salah satu pertunjukan Trio Belleville. Berbagai petualangan seru terjadi tatkala Champion ditemukan, dirinya dijadikan ajang taruhan judi illegal oleh mafia Perancis bak kuda pacuan.


Mini Kata

Menonton Les Triplettes de Belleville kita bakal terhenyak pada serangkaian adegan-adegan komikal plus permainan musik yang mengagumkan. Film produksi patungan BBC (Inggris), Vivi Film (Belgia) dan Champion Prods (Kanada) ini oleh editor Phillipe Moins dari Animation World Magazine, Les Triplettes disebut “sangat Perancis” (Frenchie) dengan menggabungkan kenakalan komikal ala dua sineas kondang Perancis : Jean Pierre Jeunet dalam Amelie dan karya Marc Caro di Delicatessen.


Kepiawaian Chomet tak sendirian. Dalam produksinya ini ia ditemani Nicholas de Crecy, animator dan kartunis peraih penghargaan Grand Prix di Annecy 1997 dan Cartoon d’Or atas karyanya La Vielle dame et Les Piegons. (The Old Lady and The Pigeons). Penggambaran setiap karakter ciptaan Sylvain Chomet selain begitu karikatural digambarkan demikian ganjil. Lihatlah tiap karakter perempuan dalam film ini rata-rata selalu digambarkan bertubuh gemuk. Jangankan bertubuh seksi seperti, sebutlah karakter Jessica dalam film animasi Who Framed Roger Rabbit (1988).


Dalam film ini nyaris tak ada perempuan dengan bentuk tubuh yang wajar! Kalaupun kurus digambarkan kurus sekali (Trio Belleville) selain bentuk tubuh Champion sendiri begitu bongkok walau tubuhnya kekar berotot akibat terlalu banyak mengayuh sepeda! Serangkaian kisah mampu terurai dengan lancar tanpa harus disusupi dialog. Les Triplettes malah sangat meminimkan dialog. Dialog yang sungguh-sungguh terjadi hanyalah monolog Champion di permulaan film yang tengah mengisahkan kehidupannya secara flash back.


Ya, animator Perancis Sylvain Chomet benar-benar memanfaatkan media visual dan bunyi dengan total, walau dengan cara itu ia tetap setia pada kisah- sesuatu yang jarang dilakukan dalam film animasi Amerika ala Disney dan Pixar maupun anime Jepang. Dengan cara itu ia seolah kembali pada idiom musik pada awalnya, yaitu kembali pada bunyi. Justru dengan minimnya dialog film ini tetap “bunyi”, bak menyimak karya musik eksperimental. Kekuatan gambar dan teknologi visual memang dimanfaatkan Chomet dengan baik-konon ia juga menggunakan teknologi CGI (Computer Generated Image) sesuatu yang sedang trend dalam dunia animasi maupun sinematografi saat ini. Kendati demikian ia tak menjadi tenggelam dalam keasyikan teknologi alias trigger happy-sesuatu yang lazim terjadi pada animator-animator muda yang tengah bereksperimen (baca: pubertas tekonologi). Ia menjadi semacam tafsir baru kepada gaya (bahkan bunyi) .


Dengan ‘setia’nya Chomet pada gaya Les Triplettes mampu menelisik selera massa pula hingga ia tak menjadi karya yang adorateur bourgeois, sesuatu yang lazim terjadi pada film-film Eropa jika dikonsumsi penonton di luar Eropa.

Manifesto Universal

Kekuatan lain eksperimentasi Chomet juga cenderung berpijak pada resistansinya berkisah sehingga walau kita tak paham bahasa Perancis sekalipun, kita toh masih dapat menyaksikannya dengan utuh.

Ya, Les Triplettes bisa dibilang sebagai karya animasi yang sangat universal persis seperti yang pernah dilakukan animator Inggris, Nick Park pencipta Wallace and Gromit (peraih 2 kali Piala Oscar kategori animasi terbaik tahun 1994-1996). Adapun Chomet termasuk pengagum Nick Park yang begitu setia menggunakan media visual sebagai gaya bukan bentuk.
Chomet sendiri mengaku pemakaian adegan yang didomiansi gerak, bunyi dan mimik ini terinsipirasi dari Nick Park yang dua tahun lalu mendulang sukses di Hollywood dengan memproduksi Chicken Run yang suara karakternya diisi aktor kondang Mel Gibson. Mengenai style-nya yang tak biasa ini Chomet punya alasan sendiri, “Bagi saya animasi adalah manifesto, teknik dan lainnya akan berjalan dengan sendirinya,” jelasnya tatkala diwawancara Phillipe Moins, editor majalah Animation World Magazine.


“Ide mengedepankan gerak muncul ketika serangkaian gambar telah terbentuk saya menyaksikannya tanpa suara. Saya lalu membayangkan sendiri kira-kira suara apa yang terjadi dan seperti yang saya katakan tadi hal-hal lain muncul dengansendirinya secara alamiah,” katanya kepada jurnalis Saxon Bullock dari BBC News.

Les Triplettes memang sungguh berhasil sebagai karya animasi mengagumkan hingga tak heran

ia menggondol Oscar 2004 kategori animasi terbaik, Lumiere 2004 untuk film terbaik dan Cesar sebagai tata musik terbaik. Keberhasilan Les Triplettes menambah jejak perjalanan sukses Perancis dalam dunia animasi setelah Kirikou et lasorciere (Kirikou and The Sorceress) karya Michel Ocelot. Meski universal bukan berarti Les Triplettes tak mengandung kelemahan (yang sebenarnya bisa juga menjadi kelebihan karena hasilnya menjadi bermata dua).
Jika dibandingkan dengan Kirikou, karya Ocelot ini lebih dapat dikonsumsi penonton anak ketimbang Les Triplettes. Misalnya adegan Trio Belleville yang meskipun toh begitu komikal mampu pula mengundang rasa jijik penonton karena hobinya menyantap kodok dalam menu sehari-hari.

Adegan ini begitu ironis dengan mampu mengundang antara kesan jijik dan estetika sehingga lebih cocok dikonsumsi penonton dewasa. Gaya seperti ini konon bukan barang baru dalam sejarah perfilman. Tengoklah tokoh Hannibal dalam Silence of The Lambs yang dengan tenang mempersilakan Clarice Starling duduk tatkala psikopat ini tengah memasak bagian tubuh korbannya. Atau karakter wanita cantik yang diperankan Angela Jones dalam Curdled yang diproduksi Quentin Tarantino, dimana ia sangat terobsesi melihat kepala yang terpenggal korban-korban pembunuhan.


Dalam dunia komik sendiri ini pun bukan barang baru. Tengoklah komik Fables atau beberapa serial komik produksi Fantagraphics yang terkenal mengawinkan ironi erotik berbalutkan estetika. Walau bukan hal baru, hal demikian barangkali baru terjadi pada film animasi produksi Eropa. Ya, Chomet begitu brilian mengambil elemen-elemen ini sebagai rujukan hingga Les Triplettes memang patut menuai pujian. *


layarkata.com, Maret 2003


Golan Globus, Cult Movie dan Patriotisme Amerika

ERA 1980-an adalah masa keemasan duet produser paman dan keponakan kelahiran Israel, Menahem Golan dan Yoram Globus di bawah bendera Cannon. Khalayak penikmat film maupun bukan pasti tak begitu saja melupakan popularitas film laga dengan bintang Chuck Norris (Missing In Action), Charles Bronson (Death Wish), Sylvester Stallone (Cobra, Over The Top), Jean Claude Van Damme (Bloodsport) serta film-film ninja yang dibintangi aktor Jepang Sho Kosugi, sampai serial American Ninja. Kala itu produksi Cannon begitu mendominasi pasar, khususnya film laga. Tak berhenti pada film laga, film tarian seperti Breakdance sampai Lambada adalah produk Cannon yang seketika tak dapat begitu saja terluputkan dalam jagat perfilman Hollywood.

Golan-Globus, demikian nama beken duet produser kondang itu dikenal bukan dari film dengan cita estetik tertentu melainkan kageori b-movie (bad movie) alias film 'sampah' yang lebih pantas diputar di bioskop pinggiran dan jenis drive-in (teater mobil) di Amerika. Kendati film 'sampah', Golan-Globus bukan sembarang produser 'b'. Meski kualitas produknya tak sebanding dengan duet Guber-Peters (John Peter dan Peter Guber) dari Warner Bros sekalipun, diam-diam mereka mengangkat jati diri Amerika sebagai negara adidaya, terutama setelah kekalahannya di perang Vietnam. Golan-Globus adalah duet produser paman dan keponakan yang sudah cukup kondang di negeri asalnya, Israel. Menahem Golan, lahir di Tiberias, Israel tahun 1929. Keponakannya, Yoram Globus, lahir tahun 1941. Sebelum hijrah ke Hollywood kedua bersaudara ini berhasil mengangkat perfilman Israel lewat film Kazablan, Operation Thunderbolt dan Lemon Popsicle di tahun 1970-an. Ketiga film ini sangat populer di Israel dan beberapa negara lain (baca: Eropa). Lewat produksi film tersebut mereka berhasil mengenalkan perfilman Israel dengan berhasilnya Operation Thunderbolt (dibintangi Klaus Kinski) sebagai nominator Academy Award kategori film berbahasa asing terbaik tahun 1977.

Tahun 1979 Golan dan Globus hijrah ke Amerika dengan maksud melebarkan sayap di Hollywood. Tahun 1983 Golan mengadakan pertemuan dengan Sam Arkoff, seorang raja film schlock. Schlock adalah istilah lain dari jenis film eksploitasi seks dan kekerasan atau dikenal pula dengan sebutan b-movie (bad movie). 'Raja' film jenis seperti ini jauh sebelum Golan-Globus naik pamor adalah Dario Argento, produser Italia yang terkenal memproduksi film horor dan Roger Corman, salah satu 'guru' Menahem Golan ketika mengawali karir filmnya di Hollywood bersama Francis Ford Coppola. Adapun Coppola sendiri sebelum tenar pernah berkecimpung dalam produksi film porno dan 'b-movies'. Golan mengeluh kepada Sam Arkoff setelah banyak skrip yang ditawarkannya kepada studio besar Hollywood tak digubris. Perjumpaannya dengan Arkoff membuahkan hasil. Golan mendapat pinjaman modal sebesar $ 75.000.

Dengan bantuan pinjaman modal dari Arkoff, Menahem Golan dan Yoram Globus kemudian membeli studio kecil bernama Cannon yang pada waktu itu sedang dalam keadaan sekarat. Namun seperti tipikal kisah-kisah perjuangan dalam membangun sebuah industri, awal usaha Cannon bukan sesuatu yang langsung jadi. Nasib Cannon mulai terangkat setelah memproduksi Death Wish 2, The Last American Virgin dan Enter The Ninja pada periode 1980-1982. Tahun 1984-1986 Cannon membukukan keuntungan dengan memproduksi sekitar 23 judul film per tahun. Diantaranya Missing In Action (yang dibuat sampai 3 jilid), Invasion U.S.A, Breakdance, Breakdance'2 Electric Boogaloo, Lifeforce, Delta Force, dan Death Wish 3.

Untuk tahun 1986 saja Cannon berhasil memproduksi sebanyak 43 judul film. Pada masa itu nyaris tiada perusahaan film besar macam Twentieth Century Fox atau Warner Bros menandingi jumlah produksinya. Hasil keuntungannya pun jika dihitung dengan kurs rupiah pada waktu itu berjumlah Rp.16 milyar. Ini belum ditambah dengan usaha televisi kabel yang juga dilakukan Cannon dengan bermodalkan 100 juta dolar. Seiring dengan keuntungannya yang berlipat ganda, harga saham Cannon di pasar bursa melonjak menjadi sepuluh kali lipat.

***

KONTRIBUSI Cannon dalam kerajaan Hollywood terbilang besar terutama dari segi trend dan popularitas, bukan estetika sinematografi layaknya film 'serius'. Cannon menjadi legenda dalam sejarah perfilman Hollywood, terutama dari industri hiburan. Golan dan Globus seketika dinobatkan Hollywood sebagai raja film b-movies setelah era Roger Corman. Sampai kini beberapa produk Cannon ada pula yang tergolong cult movie. Cult movie adalah istilah untuk film yang semula dilecehkan namun tak bisa begitu saja dilupakan. Istilah ini pertama kali muncul dari kritikus Chicago Sun-Times, Roger Ebert. Menurutnya tipikal cult adalah ketika film itu ditayangkan pengaruhnya begitu besar kepada masyarakat, entah itu dari filmnya sendiri yang memang dapat dipertanggungjawabkan dari segi estetik sehingga mampu memberi pengaruh pada genre film sesudahnya, punya penggemar fanatik bahkan mampu menjadi trendsetter. Contoh cult movie bisa disebut film Big Boss yang dibintangi almarhum Bruce Lee.

Dalam film ini sepatu kungfu jenis "Big Boss" yang digunakan Lee seketika menjadi tren anak muda tahun 1970-an. Psycho karya Alfred Hitchcock dapat digolongkan cult movie karena selain layak mendapat pujian mampu memberi pengaruh terhadap film-film genre suspens dan slasher horror. Uniknya, sebuah film meski dibuat dengan cerita seadanya layaknya produk Cannon dari kelas 'b' naik derajatnya hingga menjadi cult movie. Konon, kebanyakan film-film cult dari sineasnya sendiri tak pernah menyangka karyanya bakal menjadi cult walau pada masanya dilecehkan karena ceritanya buruk atau diproduksi dengan bujet ringan. Sekedar contoh film The Good, The Bad and The Ugly yang dibintangi Clint Eastwood atau A Few Dollars More. Film-film seperti ini jauh sekali kualitasnya dibanding tema sejenis yang juga beredar pada masanya seperti High Noon. Nightmare on Elm Street dan Scream karya Wes Craven pun layak disebut cult movie. Kedua film tersebut punya penggemar fanatik hingga dibuat berjilid-jilid atau berbagai versi, disamping produsen lain yang latah bikin film dengan tema sejenis.

Pendek kata, cult movie adalah film yang sangat bersuara pada jamannya kendati tak harus selalu dibuat sutradara besar atau produser kelas "A" layaknya Apocalypse Now sekalipun. Pengertian cult movie tak terbatas sehingga dapat melampaui jenis film apapun.Film cult movie ala Cannon adalah Breakdance, Lambada dan Missing In Action (MIA). Kalau Breakdance dan Lambada menggoyang dunia dengan tariannya, MIA banyak menginspirasi produser lain untuk membuat film perang Vietnam dengan mengumbar patriotisme Amerika sebagai hero. Salah satu contoh epigon produk Cannon adalah Rambo (1985), film yang melejitkan Sylvester Stallone produksi Carolco. Cannon sudah mendahuluinya lewat MIA (1983) dengan bintang laga Chuck Norris. Oleh beberapa kalangan film perang jenis ini juga disebut propaganda Amerika yang dalam kenyataannya kalah perang di Vietnam. Dapat disimpulkan Amerika 'hutang budi' lewat produk-produk Cannon yang malah meninggikan gengsinya sebagai negara adidaya. Dari segi industri hiburan sendiri film perang Vietnam ala Cannon pun 'menyegarkan' bagi pencari hiburan sampai politisi. Apalagi ketika film-film seperti itu tengah beredar berbarengan dengan film perang macam Platoon (Oliver Stone), Killing Fields (Roland Joffe) dan The Deer Hunter (Michael Cimino).

Paling tidak, kendati bukan film bagus publik Amerika punya pilihan meski disadari sendiri film-film semacam itu hadir bak dagelan saja. Selain Vietnam, Amerika yang kala itu sedang 'perang dingin' dan selalu bersaing dengan Rusia akhirnya menempatkan negara itu sebagai musuh. Cannon mempeloporinya lewat Invasion U.S.A yang juga dibintangi Chuck Norris. Dalam film ini dikisahkan Chuck Norris sebagai hero membantai teroris Rusia yang menyerang New York. Cult movie lain ala Cannon ada The Delta Force (1986) yang (lagi-lagi) dibintangi Chuck Norris dan disutradarai Menahem Golan sendiri. Film ini mengisahkan kehebatan pasukan elit Delta Force melawan pembajak pesawat TWA.

Selain menjadi pelopor, Cannon juga menjadi epigon film petualangan Indiana Jones yang dibuat Steven Spielberg lewat King Solomon's Mines (1985) Film ini dibintangi Richard Chamberlain yang sempat populer lewat miniseri televisi Shogun dan Sharon Stone semasa masih mengawali karirnya sebagai aktris. King Solomon's sendiri dibuat sequelnya dengan judul Allan Quatermain and The Lost City of Gold (1987) mengekor sukses Indiana Jones and The Temple of Doom. Film-film Enter The Ninja, Revenge of The Ninja, Ninja III: The Domination dan American Ninja juga tergolong cult movie ala Cannon. Lewat film-film tersebut publik seketika akrab dengan sosok pendekar ninja dari Jepang. Sosok ninja lantas berkibar di mana-mana, sampai serial teve (salah satunya The Master yang dibintangi Lee Van Cleef), serial kartun Teenage Mutant Ninja Turtles sampai mainan anak-anak seperti boneka, kostum dan replika senjata ninja. Cult movie lain produk Cannon yang tak bisa dilupakan adalah Bloodsport (1987) Di film inilah karir Jean Claude Van Damme sebagai bintang laga dimulai. Van Damme, pria kelahiran Brussel, Belgia yang kondang dijuluki "otot dari Brussel" setelah Bloodsport karirnya semakin cemerlang hingga akhirnya dipinang studio besar macam Universal dan Warner Bros.
***

DENGAN keuntungan yang sudah diraih Golan dan Globus lewat b-movie, mereka toh mulai ingin mendapatkan nama, bukan sekedar uang. Golan-Globus ingin juga mendapat Academy Award dan Palm D' Or, ingin terkenal dan terhormat seperti Warner Bros atau Twentieth Century Fox. Golan dan Globus akhirnya memproduksi film karya sineas Andrei Konchalovsky (Runaway Train, 1985) Jean Luc Goddard (King Lear, 1987), Barbet Schroeder (Barfly, 1987) Fred Schepisi (A Cry in The Dark, 1988) dengan bintang-bintang berkelas macam Jon Voight, Diane Keaton, Julie Andrews dan Meryl Streep. Tahun 1985 salah satu produk mereka Runaway Train berhasil menjadi nominator Academy Award kategori best supporting actor untuk abang Julia Roberts, Eric Roberts.

Film ini skenario dan ceritanya digarap maestro film Jepang, Akira Kurosawa. Meski sempat masuk nominasi Oscar kebanyakan film-film 'serius' mereka belum menghasilkan keuntungan berarti alias proyek rugi. Menahem Golan sendiri menurut kritikus Roger Ebert bukannya tak mempunyai selera bagus. Dalam Chicago Sun-Times ditulis, Golan terobsesi membuat film art seraya mendapat penghargaan Palm D'Or di Cannes Film Festival. Salah satu filmnya yang berhasil diputar di Cannes 1987 adalah Two Weeks in a Midday Sun kendati gagal meraih penghargaan bergengsi tersebut. "Begitu terobsesinya sehingga sehingga hampir tiap tahun Golan hadir di Cannes. Tapi ia lebih sering pulang dengan tangan hampa lantaran tak satupun film produksinya menang. Golan ingin membuktikan kepada dunia bahwa Cannon tak hanya mampu menghasilkan uang. Kebanyakan juri Cannes menganggap remeh dengan alasan mana mungkin produser King Solomon's Mines bisa membuat film sekelas Otello karya Verdi?" tulis Ebert mengomentari kegagalan Golan yang terjadi karena perasaan sentimen juri-juri Cannes.

Sebuah keinginan yang cukup beralasan akibat imej 'b-movies' yang kadung melekat dalam setiap produksi Cannon membuat mereka lebih sering diganjar penghargaan Razzie Award ketimbang Academy Award. Razzie Award adalah penghargaan bagi film-film buruk, plesetan dari Academy Award. Bentuk piala Razzie sendiri serupa dengan Academy Award namun terbuat dari kayu, bukan dari emas. Razzie Award diadakan hanya untuk guyonan para wartawan dan kritikus film. Selain demi melambungkan imej agar tak selalu dikenal dalam produk b-movie saja, Golan dan Globus gigih berjuang mendapatkan hak cipta dari DC Comics sehingga mampu memproduksi sequel Superman (yang notabene film kelas 'A') yaitu Superman IV: Quest for Peace (1987) bermitra dengan Warner. Cannon juga memproduksi adaptasi film kartun, yaitu He-Man and The Masters of Universe yang dibintangi Dolph Lundgren dan Frank Langella.

Setelah berkiprah sebagai produser, Golan dan Globus tergoda untuk memasuki pasaran film internasional sebagai jalur distribusi. Mereka kemudian membeli Thorn EMI Internasional, sebuah perusahaan film yang juga memiliki akses peredaran di Inggris serta mempunyai banyak jaringan bioskop di Belanda dan Amerika.

***

LANTAS bagaimana Cannon mampu mendapatkan aktor seperti Charles Bronson, Chuck Norris, Lee Marvin atau Sylvester Stallone yang notabene sudah memiliki tarif? Mereka ternyata mendapatkannya dengan cara membujuk hingga mereka mau dibayar separuh harga dari honor yang biasa didapatkan di studio film besar. Sebagai imbalan mereka mendapat persentase keuntungan dari hak edar di pasaran film internasional dan kaset video. Semua ini dilakukan Cannon pun sebelum film yang dibintangi para bintang itu sungguh-sungguh dibuat. Inilah yang membedakan produk b-movie Cannon dibanding studio film sejenis.

Kisah sukses Cannon yang nampaknya bak melibas perusahaan besar dalam skala jumlah produksi per tahun menggoda Robert Friedman, editor majalah Village Voice untuk mengikuti kegiatan bisnis dua bersaudara itu dari dekat. Salah satu kesan yang didapat ketika Friedman mengikuti mereka, duet Golan dan Globus ini ternyata menjalankan bisnis film ala "kaki lima" alias tiada birokrasi di kantornya. "Keputusan bisnis lebih didasarkan kepada naluri semata. Transaksi jutaan dolar bisa dengan mudah terjadi hanya dengan beberapa patah kata saja. Akibatnya tiap hari mereka menghadapi ancaman, gugatan dan sengketa. Intinya, kegiatan bisnis dua bersaudara ini selalu menyerempet bahaya sampai sisi-sisi hukum," tulis Friedman. "Kami hanya menyukai dan mencintai film, itu saja. Oleh karena itu kalian akan selalu melihat kami di kantor tujuh hari dalam seminggu," kata Golan seperti ditulis wartawan Patrick Runkle dari situs Inksyndicate.com. Kunci sukses Cannon di tangan Golan dan Globus persis dianut "sang guru", Roger Corman.

Film eksploitasi seks dan kekerasan dengan biaya semurah mungkin adalah dasar usaha mereka. Biaya semua produksi Cannon rata-rata tak melebihi bujet 5 juta dolar. "Saya tak percaya kepada hasil-hasil penelitian dan statistik. Semua itu omong kosong. Tak ada dalil maupun resep tertentu sebuah film bisa laku di pasaran!" ungkap Golan kepada Friedman. "Lagipula," tambah Globus, "Bisnis film itu bagi kami sama saja dengan bisnis asuransi. Sebuah film dengan biaya produksi di bawah 5 juta dolar anda tidak akan rugi!" Kendati demikian duet Golan dan Globus juga pernah memproduksi dengan bujet tinggi. Salah satunya Lifeforce (1985) yang ternyata hanya menghasilkan keuntungan 10 juta dolar dibanding biaya produksinya sebesar 30 juta dolar.

Yang menggembirakan terutama dari segi keuntungan dan dibuat dengan bujet tinggi adalah Superman IV dan Masters of The Universe.

***

DALAM menjalankan roda bisnis Menahem Golan dikenal sebagai salesman agresif. Dia mampu menjual hak cipta film-filmnya kepada para distributor jauh sebelum produksinya dimulai. Dia juga mampu meyakinkan para investor dengan persentase keuntungan yang menggiurkan. Dalam situs Inksyndicate.com Peter Runkle menulis, bisnis usaha seperti ini terbilang unik terutama yang dilakukan studio film kecil macam Cannon. Lagipula, tulis Roger Ebert dalam situs IMDB.com bagi studio kecil dimanapun dengan jumlah produksi 43 judul per tahun hanya mampu dilakukan Cannon. Selain menjadi produser Golan dan Globus juga menjadi pengedar film di Yugoslavia. Mereka juga memiliki gedung bioskop sendiri dan menanam investasi distribusi video selain membeli hak cipta beberapa film-film klasik untuk diedarkan dalam bentuk kaset video. Duet Golan dan Globus juga begitu gigih berebut copyright film. Diantaranya film yang nyaris diproduksi Cannon adalah Spiderman dari Marvel Comics. Sayang, perjuangan mereka gagal lantaran Cannon pada waktu itu terlibat masalah finansial.

Akibatnya Cannon digiring ke meja hijau. Gara-gara masalah ini hubungan Golan dan Globus retak. Golan begitu terpukul seraya menyalahkan Globus yang dianggapnya tak becus mengatasi problem finansial. Cannon akhirnya harus membayar hutang-hutangnya kepada investor. Cannon yang nyaris gulung tikar kemudian diambil alih MGM. Bisnis Cannon selanjutnya dikerjakan Giancarlo Parletti dan Yoram Globus. Film-film Cannon selanjutnya tetap diproduksi dengan jumlah yang lebih kecil. Menahem Golan sendiri hengkang pada tahun 1989 dan mendirikan studio film baru bernama 21st Century Films. Hak cipta Spiderman terkatung-katung.

Namun berkat kegigihan Golan hak cipta Spiderman dan Captain America jatuh juga ke tangannya. Seperti yang dilakukannya semasa di Cannon, Golan dengan studio barunya 21st Century dapat meyakinkan Viacom untuk mendapatkan hak edar Spiderman agar diputar di stasiun televisi juga penjualan kaset videonya kepada Sony. Golan juga berhasil mengajak Carolco sebagai mitra. Carolco kala itu baru saja mendanai James Cameron dalam Terminator 2. Carolco kemudian menunjuk Cameron sebagai sutradara dan penulis skrip Spiderman dengan honor 3 juta dolar.Bukannya menggarap Spiderman Cameron malah terlibat produksi film Titanic. Akibatnya Golan malah membatalkan kontrak dan memproduksi Captain America. Keputusan Golan membatalkan kontrak jelas membuat ricuh Marvel, Sony, Viacom dan Carolco. Sony dan Viacom kemudian berseteru dengan Carolco dan 21st Century di meja hijau. Apalagi tanpa sepengetahuan Carolco, Golan mengambil dan memperbaharui kontrak hak cipta Spiderman semasa masih di Cannon yang kini diambil alih MGM. Akibatnya Spiderman tak kunjung diproduksi. 21st Century pun bangkrut setelah film produksinya yang dibuat untuk menyaingi produksi Cannon Lambada: Set The Night on Fire yaitu Lambada : The Forbidden Dance ambruk di pasaran. Ironis, padahal sebelumnya Golan sesumbar Lambada produksinya di bawah bendera 21st Century lebih bagus. Untuk mengulang sukses Globus sengaja mengontak sutradara Breakdance, Joel Silberg untuk menyutradarai Lambada. Persaingan mereka begitu sengit sampai-sampai muncul pertengkaran siapa yang berhak menggunakan judul Lambada.

Akhirnya kedua film itu tetap beredar. Hanya pada poster Lambada produksi 21st Century Golan menambahkannya With The Original Hit Song 'Lambada' by Kaoma sebagai 'penglaris'. Agar tak menyerupai Lambada produksi Globus judulnya sendiri pun berganti menjadi The Forbidden Dance is Lambada. Golan optimis Lambada bikinannya lebih laku lantaran ia berhasil mendapat hak cipta lagu berjudul Lambada yang tengah populer awal 1990-an dari Kaoma sebagai soundtrack. Produksi lainnya dari 21st Century, Captain America gagal di pasaran. Cannon sendiri sepeninggal Golan juga tak mampu mendulang sukses. Hanya Lambada saja yang menghasilkan keuntungan lumayan dibanding produksi Cannon sesudahnya, sebutlah American Cyborg yang diperankan Joe Lara, pemeran serial televisi Tarzan.

***

HUBUNGAN yang retak perlahan tersambung kembali. Golan dan Globus berdamai dengan mendirikan sebuah perusahaan film baru pada November 1997 bernama First Miracle. Lewat wawancara dengan CNN's Showbiz Today pertengahan 1998 Globus berkata, "Kami memang bercerai setelah membuat 300 film selama sembilan tahun. Kami bersatu kembali supaya lebih kuat dan bijaksana dalam suasana industri yang lebih baik." Masih dalam wawancara dengan CNN, Golan sekaligus mengumumkan produk mereka yang terbaru, yaitu film Speedway Junkie dibintangi aktris Darryl Hannah. Film ini juga diproduksi bareng Gus Van Sant yang melesat sebagai sutradara lewat Good Will Hunting. Berbeda dengan Cannon yang berkutat dengan film laga, duet Golan-Globus di bawah bendera First Miracle memproduksi film drama. Lewat First Miracle mereka memproduksi Cattle Call dan Wedding Band yang dibintangi penyanyi Debbie Gibson. Entah mengapa sepertinya nasib Golan dan Globus hanya beruntung lewat film laga. Ketiga film itu hanya menghasilkan keuntungan 3 juta dolar. Kegagalan ini membuat mereka kembali berpisah. Globus pulang ke Israel dan mendirikan perusahaan film Frontline Entertainment. Nyaris tak berambisi dibanding pamannya, Globus hanya berkonsentrasi lewat produk lokal saja. Sedangkan Golan tetap bersemangat, bahkan sampai mengibarkan kembali bendera Cannon dengan nama New Cannon Inc. Dengan nama ini Golan bermitra dengan sineas muda Israel, Evgeny Afineevsky. Konsep produksinya juga kurang lebih sama saja dengan yang dilakukan semasa jaya Cannon, yaitu produksi dengan bujet ringan.

***

BELAJAR dari sepak terjang Cannon dapat tersirat mereka adalah produsen film Hollywood sesungguhnya dengan naluri pedagang semata. Jadwal syuting demikian singkat dan skrip yang lemah adalah pekerjaan mereka dalam membangun kerajaan b-movie. Kendati demikian mereka berhasil membuat sejarah yang sampai kini belum mampu dilakukan studio produsen b-movie manapun setelah era Roger Corman dan Dario Argento. Cannon juga menjadi tempat berlabuh terhadap perkembangan karir bintang-bintang ternama seperti Chuck Norris, Sylvester Stallone, Sharon Stone dan Jean Claude Van Damme disamping mengangkat kembali popularitas beberapa aktor gaek seperti Roy Schneider, Charles Bronson dan Jon Voight. *

Layarperak.com, 19 Oktober 2004


Sosok Ngeri itu Bernama Freddy

Monster ciptaan Dr. Frankenstein, pangeran kegelapan Dracula, Werewolf si manusia serigala, bocah setan Damien Omen, dan seabrek varian tokoh psikopat pun serial killers yang sudah diawali kehadirannya oleh Norman Bates di Psycho adalah ikon-ikon kengerian yang monumental dalam sejarah perfilman Hollywood.


Tapi setelah ikon-ikon tersebut mulai mengalami kejenuhan, Hollywood kehabisan ikon baru yang selain mampu mencekam penonton, mampu pula mendulang dolar berjilid-jilid sehingga genre horor dapat terus berlanjut dengan kelebihannya menangkap seraya mengekspresikan ketakutan dan keingintahuan manusia terhadap dunia lain selain dunia yang kita jalani sekarang.


Impian tersebut berhasil terwujud berkat ciptaan Wesley Earl Craven, seorang profesor bidang psikologi yang lantas berkarier di dunia sinema. Pria yang lebih dikenal dengan nama Wes Craven ini pada tahun 1984 menelurkan A Nightmare on Elm Street yang berhasil mencekam penonton sekaligus mendulang sebanyak $ 25.500.000 dalam pendapatan box office.


Jauh sebelum Freddy Krueger muncul memang sudah ada Michael Myers ciptaan John Carpenter yang beken lewat Halloween (muncul pertama kali tahun 1978), Jason Vorhees ciptaan Victor Miller dan Sean S. Cunningham dalam Friday The 13th (1982) dan Leatherface ciptaan Tobe Hooper dalam Texas Chainshaw Massacre (1974). Ketiga ikon horor yang masuk dalam varian slasher horor penerus Psycho ini segera meramaikan jagat horor yang sudah jenuh dengan monster dan makhluk alien.


Walau sosok setan berwajah rusak terbakar, mengenakan sweater garis merah-abu-abu, topi kusam dan tangan bercakar besinya ini muncul belakangan, kehadiran Freddy Krueger di jagat horor benar-benar fenomenal. Selain melejitkan karier Wes dalam dunia sinema dan membuahkan pendapatan box office yang cukup besar, dalam sejarah horor baru Freddy Krueger yang mampu menjadi ikon dan franchise laiknya tokoh superhero dengan filmnya yang dibuat berjilid-jilid serta diproduksinya pula pelbagai action figures (boneka). Cakar besi, sweater, topeng berwajah Freddy dan topi cokelatnya yang kusam menjadi merchandise film Nightmare selama bertahun-tahun.


Kekuatan Karakter


Pertanyaan mengusik, apa sebab ikon horor satu ini mampu menjadi franchise yang digemari laiknya tokoh komik dan superhero? Kalau bicara kengerian, jauh-jauh hari orang sudah menjerit jika disuguhi karakter psikopat dan belepotan darah dalam Texas Chainshaw Massacre, kebringasan zombie dalam Night of The Living Dead-nya George Romero, kengerian Suspiria dan Inferno karya "The Italian Hitchcock" Dario Argento pun kisah-kisah horor yang ditulis Stephen King dan Clive Barker. Memang di antara ikon dan kisah horor abad 20 lainnya, masing-masing juga berhasil menjadi cult hingga mempunyai banyak fans yang fanatik. Tapi, sekali lagi sangat jarang seorang tokoh sentral mampu menjadi ikon monumental setenar Dracula, Werewolf, Norman Bates dan Hannibal Lecter sekalipun.


Sekali lagi apakah yang membuat ikon bernama Freddy Krueger ini menjadi monumental? Jawabnya tak lain adalah kekuatan karakter. Karakter? Bukankah karakter yang kuat sudah ada pada era horor klasik? Tunggu dulu. Baiklah kita tengok satu per satu komponen apa yang melatarbelakangi karakter Freddy Krueger.


Pertama, wajah. Jika diperhatikan pelbagai simbol yang melekat pada karakter Freddy Krueger adalah perwujudan dari macam-macam ikon horor sebelumnya. Karakter wajah rusak seperti Freddy sudah dapat ditemui sebelumnya dalam monster Frankenstein berwajah persegi dengan bekas jahitan di pipinya atau karakter Leatherface di Texas Chainshaw Massacre. Bedanya wajah seram Freddy bukan karena bekas jahitan dan sayatan, melainkan bekas luka bakar.

Kedua, gadget (atribut). Peralatannya berupa cakar besi (terbuat dari sarung tangan yang di bagian keempat jarinya ditambahkan potongan besi yang diruncingkan) sudah ada pada tokoh dan karakter genre slasher horor (mempergunakan senjata tajam) yang (lagi-lagi) sudah diawali di Psycho, Friday The 13th dan Halloween. Model topi cokelatnya yang kusam tentu saja tak jauh-jauh bermaksud menjadi "kostum resmi" seperti Dracula dengan leher kerahnya yang tinggi.


Ketiga, pola membunuh. Pola membunuh Freddy adalah kegilaannya mempermainkan calon-calon korban sebelum dibunuh hingga menjadi kesenangan tersendiri sudah ada pada film Psycho dan Suspiria.


Adapun Freddy sebelum sepenuhnya menjadi iblis, di dunia nyata sudah terkenal sebagai serial killer di Elm Street dengan kesenangannya membunuh anak-anak kecil dan remaja.
Keempat, setting. Setting pembunuhan sebagai "taman bermain" Freddy adalah alam mimpi di mana penonton dibawa ke dunia "antah berantah" yang ganjil. Penonton dibawa bolak-balik antara mimpi dan kenyataan. Pola demikian sudah ada pada The Evil Dead (1983) besutan sutradara penghasil Spider-Man, Sam Raimi dan The Exorcist (1976) karya sutradara William Friedkin yang diangkat dari novel William Peter Blatty. Memang The Exorcist "hanya" menghasilkan figur setan yang muncul dalam tubuh gadis cilik yang diperankan Linda Blair.

Tapi figur inilah yang baru pertama kali divisualkan berganti-ganti antara wujud manusia biasa dengan sosok iblis. Kalau dalam The Exorcist dunia gaib hanya muncul sesekali lewat tubuh seorang gadis cilik, Nightmare menggantinya dengan lebih ngeri: setelah bersua dengan sang iblis yang tak lain adalah si Freddy, penonton sekaligus dibawa ke setting kekuasaan Freddy, yaitu alam mimpi.


Tipe-tipe tersebut dikumpulkan Wes Craven menjadi satu bak struktur susunan teks sastra yang pernah dikemukakan Julia Kristeva dalam buku Structural Poetics susunan Jonathan Culler (London:Roudledge & Kegan Paul, 1977). Dalam buku tersebut tertulis bahwa setiap teks sastra sebenarnya hanyalah merupakan mosaik kutipan-kutipan dan merupakan penyerapan serta transformasi dari teks-teks lain. Dengan kata lain, tak ada karya teks sastra di dunia ini yang tidak terpengaruh karya orang lain, demikian pula karya seni lain seperti lukisan dan film. Wes berhasil mengumpulkan mosaik-mosaik tersebut ke dalam karakter yang disusunnya ke bahasa visual dalam satu karakter bernama Freddy Krueger.


Hal demikian tak dapat dipungkiri lagi jika melongok perjalanan kariernya sebelum menciptakan Freddy Krueger, Wes juga bersahabat dengan produser film Friday The 13th, Sean S. Cunningham. Persahabatan inilah yang menjadi bibit-bibit tersemainya tokoh Freddy Krueger. Friday The 13th yang melejitkan Jason Vorhees, tokoh psikopat dengan goloknya yang mematikan itu tentu saja menjadi satu dari sekian karakter yang menjadi inspirasi pria kelahiran Cleveland, 65 tahun lalu dalam menciptakan Freddy. Adapun film yang menjadi debut penyutradaraannya di genre horor, Last House on The Left (1972) tak lepas dari supervisi Sean S. Cunningham.


Ikon yang Menjadi Cult


Kemunculan setan fenomenal Freddy Krueger segera membuat tiap sequelnya menjadi cult, alias menuai popularitas dan fans yang fanatik. A Nightmare on Elm Street mendadak menjadi cult movie. Cult movie adalah istilah untuk film yang semula dilecehkan namun tak bisa begitu saja dilupakan. Istilah ini pertama kali muncul dari kritikus film kondang Roger Ebert dalam ulasannya di Chicago Sun-Times.


Menurut Ebert, tipikal cult adalah ketika film itu ditayangkan pengaruhnya begitu besar kepada masyarakat, entah itu dari filmnya sendiri yang memang dapat dipertanggungjawabkan dari segi estetik sehingga mampu memberi pengaruh pada genre film sesudahnya, sekaligus punya penggemar fanatik bahkan menjadi trendsetter. Cult movie sendiri memang dimaksudkan sebagai bentuk film yang tertarik pada benda-benda sehari-hari sebagai cermin dari dunia industri sehingga menyimpan semangat yang kurang lebih serupa dengan yang dilakukan pengamat dan pengkaji seni rupa Inggris, Lawrence Alloway tatkala membuat istilah pop art sebagai penamaan kesadaran baru dari sekelompok pelukis dan cendekiawan Inggris akan perlunya alternatif baru.


Uniknya, cult movie tak berarti harus berlaku pada film-film kategori "A" seperti Taxi Driver atau Apocalypse Now sekalipun. Film yang dibuat dengan naluri menghibur semata (bahkan bujet ringan atau masuk kategori "B" movie sekalipun) tetap saja bisa menjadi cult movie asal punya penggemar fanatik dan sangat bersuara pada zamannya, yaitu zaman ketika film itu dirilis.


Orang-orang di zaman 1970 dan awal 1980-an pasti tak akan melewatkan film-film seperti King Kong, Saturday Night Fever, Grease, atau yang paling tua adalah film Big Boss-nya almarhum Bruce Lee (dan juga judul lain seperti Game of Death, Enter The Dragon), film-film laga yang dibintangi Chuck Norris, film-film ninja sampai era spaghetti western yang dibintangi Franco Nero. Pendek kata, orang bisa saja menyebut film-film seperti Big Boss, film-film laganya Chuck Norris, film tari Breakdance (yang merupakan epigon Flashdance), spaghetti western sampai King Kong dan film-film silat Mandarin keluaran Shaw Brothers sebagai film kacangan hingga tak layak diapresiasi secara kritis. Tapi tak bisa dipungkiri kehadiran film-film tersebut adalah pertanda bahwa di zaman itulah selera budaya massa muncul dalam satu bahasa: punya penggemar fanatik hingga menjadi trendsetter. Bolehlah orang tak menganggapnya sebagai film bermutu, tapi dunia hiburan memang sedang berkembang dengan adanya film-film seperti itu. Cerita yang sangat hitam-putih, busana yang mungkin dilihat di zaman sekarang terlihat norak dan teknologi "seadanya" (beberapa sutradara film menyiasati agar teknologi "seadanya" itu tersamarkan karena memang di zaman itu tipuan kamera dan digital belum maksimal) tak jadi soal.


Cult menjadi tanda-tanda zaman di mana dunia sinema telah merambah ke dalam selera massa yang lebih universal alias mampu menjangkau tipikal penonton manapun. Ini beda dengan era film-film kolosal macam Ben Hur, The Mutiny on The Bounty, romantika macam Gone With The Wind atau Casablanca pada tahun 1960-an yang selain dimaksud sebagai selera massa juga, namun masih terlihat lebih terasa adorateur bourgeois-nya dengan mengedepankan romantisme sebagai resep utamanya.


Sineas Quentin Tarantino yang belum lama ini mendapat kehormatan menjadi ketua juri Festival Cannes dalam karya terakhirnya, Kill Bill adalah salah satu contoh sineas yang begitu terpengaruh dengan film-film kategori cult movie sebagai inspirasinya. Mulai dari film kungfu almarhum Bruce Lee, film samurai yang diperankan aktor Jepang, Sonny Chiba sampai film silat keluaran Shaw Brothers semuanya menjadi satu dalam Kill Bill. Jackie Brown (1996) adalah karya Tarantino lainnya yang mencoba mengangkat genre blaxploitation yang sangat populer dan notabene menjadi cult di tahun 1970-an dimana film-film dalam genre ini mempunyai karakter yang melibatkan seluruh pemain dan awak produksinya adalah warga Afro-Amerika. Dari genre ini muncul film cult Shaft, film-film yang dibintangi Pam Grier dan film laga yang dibintangi aktor Fred Williamson. Dari serial teve muncul serial keluarga Jeffersons dan tentu saja yang paling populer adalah The Cosby Show yang diproduksi hingga awal 1990-an.
Nightmare dengan tokoh sentral Freddy segera menambah daftar film-film cult movie dari genre horor dan fantasi yang sudah diwakili Dracula, Werewolf, Frankenstein sampai King Kong dan Godzilla. Nightmare memang bukan film horor yang elegan dan masuk kategori "A" seperti The Exorcist, Rosemary’s Baby, Carrie, dan Psycho sekalipun. Tapi ia punya ciri khas tersendiri bak superhero. Ini sebuah keunggulan yang baru dicapai ikon horor setelah Jason Vorhees, Michael Myers dan Leatherface.


Sebagai ‘syarat’ lain sebuah film menjadi cult, Roger Ebert juga menjadikan pengaruh yang mampu menjadi epigon setelah film tersebut punya penggemar fanatik. Epigon Freddy Krueger yang juga populer bisa disebut Pinhead, setan botak yang wajah dan kepalanya ditusuk duri dalam film Hellraiser. Hellraiser muncul di akhir tahun 1980-an. Dan seperti ikon horor lainnya, Hellraiser juga dibuat berjilid-jilid. Epigon Freddy Krueger lainnya bisa disebut Maniac Cop karya William Lustig dari "kerajaan B movie". Jagat perfilman nasional sendiri pernah terang-terangan mengadopsi setan alam mimpi dalam film Ranjang Setan (1985). Seperti tipikal film horor Indonesia lainnya dengan mengetengahkan hantu perempuan, Ranjang Setan juga mengganti sosok yang diinspirasikan dari Freddy Krueger dengan sosok setan perempuan yang diperankan Chintami Atmanegara.


Sukses di layar lebar, franchise Freddy dikembangkan pula ke serial televisi Nightmare’s Café ( a.ka. Freddy’s Nightmare) hingga tak pelak lagi ikon horor satu ini terbilang paling populer dibandingkan ikon-ikon sebelumnya. Jason Vorhees, Leatherface, dan Michael Myers bisa saja terus dihidupkan jilid demi jilid dalam tiap sequelnya. Namun, untuk menyebut ikon horor yang selain sudah diproduksi berjilid-jilid kemudian lantas merambah ke layar gelas laiknya ikon superhero macam Batman, Superman, Hulk, dan Spider-Man hanya dapat menyebut satu nama yaitu Freddy Krueger.


Freddy Krueger sendiri pernah tampil sebagai cameo dalam episode serial kartun The Simpsons. Fred tampil di awal kartun ciptaan Matt Groening dengan duduk bersama Jason Vorhees. Matt Groening dan tim kreatifnya bahkan memparodikan beberapa adegan film Nightmare di The Simpsons episode Halloween Special.
Dari Teknologi "Seadanya" sampai Musik Soundtrack


Resep sex, violence and crime yang disusun Wes dari pelbagai karakter ikon horor diaduknya menjadi satu. Suasana tegang digabungkannya dengan perwujudan visual gila-gilaan sehingga mampu mengaduk emosi antara humor dan rasa ngeri bagi yang menontonnya. Memang, A Nightmare on Elm Street demikian kuat unsur mistisnya. Tapi, Wes tetap tampil elegan dengan memperlihatkannya bergantian dalam suasana suspens sehingga di beberapa scene ia melakukan kompromi dengan menyiasati teknologi yang memang baru "seadanya". Walau "seadanya" dalam Nightmare jilid pertama ini menyimpan adegan fenomenal yang barangkali paling sadis sekaligus menjijikkan di antara sequel Nightmare lainnya. Tengoklah ketika seorang pemuda yang diperankan Johnny Depp terhisap ke dalam ranjang. Permukaan ranjang tersebut bergumpal-gumpal, seolah mengunyah tubuh Johnny Depp. Beberapa saat kemudian ranjang itu menyemprotkan gumpalan darah bak air mancur, sampai ke atas dinding kamar. Titik-titik gumpalan darah yang jatuh ke lantai dibuat seperti air hujan…

Pada adegan awal pembukaan A Nightmare on Elm Street, penonton langsung dibawa dalam bebunyian yang mencekam dimana sosok Freddy muncul samar-samar. Hanya tawa dan bunyi cakarnya yang menggores besi dan kain terdengar menyayat. Baru di sequel selanjutnya tatkala teknologi spesial efek mulai berkembang, sosok Freddy muncul "tak malu-malu" lagi, bahkan nyaris tanpa prolog seperti jilid pertamanya. Freddy yang pandai bermalih rupa ke berbagai bentuk menjadi raksasa, menjadi traktor, atau speedometer sepeda motor yang mendadak menjadi kepala Freddy adalah contoh teknologi spesial efek di Nightmare yang mulai lebih dimaksimalkan.
Tadi sudah disinggung pelbagai aspek di belakang keberhasilan Nightmare hingga ia mampu menjadi cult movie.

Bagaimana dengan aspek lainnya? Tahun 1987 tatkala popularitas Freddy Krueger semakin memuncak, perusahaan New Line Cinema yang selalu memproduksi franchise Nightmare mencoba mensinergikan efek kengerian horor dengan raungan musik rock yang hingar bingar. Hasilnya tak sia-sia. Pada soundtrack Nightmare on Elm Street 3: The Dream Warrior terlihat sejumlah musisi dan grup rock independen di bawah label Roadrunner Records. Walau bukan major label, Roadrunner banyak melahirkan grup rock kondang yang sangat bersuara pada zamannya sebagai perlawanan terhadap musik rock era hair metal seperti Poison, Motley Crue, White Lion dan Guns N’ Roses. Sepultura dan Obituary adalah dua grup trash metal kondang yang pernah bergabung di bawah label ini. Perkawinan musik rock dengan film horor secara total baru dilakukan dalam soundtrack Nightmare yang kemudian melahirkan banyak epigon sampai kini. Sebutlah film antihero semi horor Spawn, The Crow, dan Blade yang musik soundtrack-nya diramaikan dengan pelbagai varian musik rock mulai dari trash metal, speed metal, heavy metal, industrial sampai techno. Berbekal terobosan itulah, Nightmare layak menjadi cult dalam industri soundtrack.


Setelah musik, mungkin baru pada film horor Nightmare yang dalam satu sequelnya diramaikan para pesohor yang rela menjadi cameo. Rocker veteran yang terkenal dengan atribut horornya di panggung, Alice Cooper selain menyumbangkan lagunya dalam soundtrack Freddy’s Dead: The Final Nightmare (1991) ia tampil pula sebagai cameo, bersama Roseanne Barr, Tom Arnold, dan Johnny Depp. Kebetulan cameo yang dikumpulkan dalam sequel keenam Nightmare ini notabene fans berat Freddy.


Uniknya, Wes Craven "hanya" terlibat sebagai sutradara dan penulis skenario di tiga film Nightmare. Ia terlibat di Nightmare pertama (1984), ketiga (tahun 1987, produser pelaksana dan skenario) dan Wes Craven’s New Nightmare (1994) yang sengaja dibuat sebagai akhir dari legenda Freddy yang monumental itu. Nightmare sendiri sampai kini sudah dibuat sebanyak 7 sequel, di luar variannya yang paling gres, Freddy Vs. Jason (2003). Selebihnya, di pelbagai sequel maupun serial teve Nightmare, Wes Craven hanya terlibat sebagai konsultan seraya menerima royalti yang diterimanya.

Menuai Kegagalan


Bicara tentang Freddy Krueger tentu saja tak lepas dari kreatornya, Wes Craven. Profesor bidang psikologi yang terjun ke dunia film ini seperti melampiaskan nafsu bengisnya habis-habisan lewat "boneka" bernama Freddy Krueger.


Latar belakang kehidupan Wes Craven sendiri terbilang sangat bertolak belakang dengan kariernya sebagai sineas horor. Kepada Sean M. Smith dari majalah Premiere, pengikut aliran Baptis fundamental ini mengaku terusik tatkala aliran tersebut menganggap karya seni bernama film adalah perangkat setan. Justru lewat film horor ia berkesempatan merepresentaskan sisi ketakutan sebagai aspek psikologis manusia ke dalam bentuk seni.


Ketertarikannya pada film sebenarnya tak diawali dengan film horor. Seperti umumnya sineas, Wes juga pernah banyak membuat film-film dari berbagai genre mulai dari drama , komedi hingga laga. Baru pada tahun 1977 ia menemukan jati dirinya sebagai sineas horor setelah menyutradarai The Hills Have Eyes. Di sini ia melakoni tiga peran sekaligus: sutradara, penulis skenario dan editor. Setelah itu, berbagai film-film horor muncul dari tangannya. Walau rata-rata dibuat dengan bujet murah, seperti Stranger in Our House (1978) dan Summer of Fear (1978, keduanya dibintangi Linda "The Exorcist" Blair) perlahan namanya mulai menanjak hingga ia mendapat tawaran untuk menyutradarai beberapa episode serial teve horor misteri varian Alfred Hitchcock Presents yaitu The Twilight Zone. Selain Wes Craven, dalam serial teve The Twilight Zone juga pernah menjadi tempat berlabuh sutradara Tobe Hooper yang kemudian melejit lewat film horor The Texas Chainshaw Massacre dan Poltergeist (1982) yang diproduksi Steven Spielberg.


Tahun 1982 karier Wes Craven mulai diperhitungkan setelah menulis skrip film yang diangkat dari komik, Swamp Thing (1982). Swamp Thing yang diantaranya dibintangi akris seksi Heather Locklear ini sukses besar dan merambah pula ke layar gelas.
Tapi, pasca Nightmare dan Freddy Krueger nyaris film-film yang dibuat Wes kurang berhasil. Walau dalam segi pendapatan dan hasilnya cukup lumayan, beberapa filmnya sendiri gagal melambungkan tokoh setan jahat yang menjadi monumental lagi. Dalam situs resminya, wescraven.com, Wes Craven sendiri terlihat gerah dengan popularitas ikon Freddy Krueger yang diciptakannya sendiri. Hal ini bisa dilihat pada bagian F.A.Q, dimana pada bagian tersebut mensyaratkan kepada penggemarnya bahwa Wes tidak melayani permintaan dan pertanyaan perihal bagaimana caranya mendapatkan merchandise maupun atribut Freddy Krueger.


Kegerahannya tersebut membuat Wes Craven berkeras menciptakan sebuah ikon baru yang muncul dalam Shocker (1989), sebuah film campuran horor, suspens thriller dan fantasi yang agak lain dari Nightmare. Dalam Shocker yang dibuat dengan bujet tinggi ini Wes mencoba melejitkan seorang ikon baru di dunia horor bernama Horrace Pinker. Tapi walau Pinker yang dimainkan begitu baik oleh aktor Mitch Pileggi (ia juga bermain sebagai atasan Mulder dan Scully dalam serial teve The X-Files), tak kalah kuat karakternya dengan Freddy yang diperankan Robert Englund, ternyata gagal menjadi ikon baru. Padahal karakternya tak beda jauh dengan Freddy; suka bergurau (dengan caranya sendiri yang terasa black comedy) dan demikian sakti alias bisa bermalih rupa ke pelbagai bentuk setelah menjadi iblis. Sebelum menjadi iblis Pinker adalah pembunuh serial yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang servis teve. Korban-korbannya tak lain adalah para pelanggannya.

Kalau Freddy yang sebelum menjadi iblis dibakar ramai-ramai oleh penduduk setempat, Pinker malah tertangkap dan kemudian dijatuhi hukuman mati di kursi listrik. Tapi, listrik-listrik yang semula membunuhnya malah memberinya energi baru hingga ia menjadi iblis dengan kekuatan listrik yang dahsyat.
Sayang, Shocker gagal menjadi ikon dengan tak ada satupun sequel yang diproduksi. Padahal, sebagai karya Shocker cukup mencekam, bahkan bumbu komedi dan fantasi menambah nilai lebih film ini secara artistik. Soundtrack-nya yang melibatkan sejumlah musisi rock kenamaan seperti Paul Stanley (Kiss), Alice Cooper, Desmond Child (produser dan pencipta lagu-lagu Bon Jovi), Vivian Campbell (Def Leppard) sampai grup metal Megadeth membuat film ini terlihat dipersiapkan habis-habisan sebagai babak baru dalam penciptaan ikon horor Wes setelah Freddy Krueger.


Entah kenapa, film ini gagal walau secara artistik sangat menghibur dan terlihat lebih "halus" ketimbang sequel Nightmare yang "boros" memuncratkan darah. Pada saat launching-nya saja, Wes sengaja menyiapkan diri tampil di depan publik berfoto bersama dua ikon horornya, Freddy Krueger dan Horrace Pinker. Apa boleh buat, dalam film yang juga menampilkan aktris Heather Langengkamp pemeran utama Nightmare jilid pertama ini sebagai cameo ternyata gagal. Hal demikian, seolah membuktikan "kutukan" terhadap film-film yang maunya dibilang cult. Dalam sejarah perfilman, memang tak ada satupun sineas maupun produser memaksudkan dirinya membuat film-film agar menjadi cult. Pelbagai film cult yang berhasil selalu semula dimaksudkan hanya untuk produksi saja, tak kurang tak lebih.


Dengan kata lain sempat muncul pemeo di kalangan sineas jika ingin filmnya layak dibilang cult "pasti tak akan tercapai", atau jika tercapai "pengalaman seperti itu hanya terjadi satu kali saja dalam hidupmu." Oleh pengamat film Fredric Dannen, penulis buku kajian film Hong Kong yang menjadi lahan inspirasi Hollywood, Hong Kong Babylon, pemeo demikian nyaris dianggap sebagai kebenaran dengan banyak gagalnya film-film (kebanyakan genre horor, fiksi ilmiah, dan laga) yang dimaksudkan sebagai cult kebanyakan gagal di pasaran.


Wes Craven adalah salah satu contoh sineas yang tentu saja tak pernah menyangka karyanya menjadi cult dengan melejitkan tokoh Freddy Krueger menjadi ikon. Contoh lain, tentu saja disambut hangatnya film-film produksi Cannon Films. Nyaris ketika duet produser Israel Menahem Golan dan Yoram Globus masih aktif, film-film perang Vietnam-nya seperti trilogi Missing in Action (1982-1987) hanya dianggap sebagai hiburan semata dibandingkan film sejenis seperti The Deer Hunter yang sarat permenungan atau Rambo sekalipun yang dibuat dengan semangat "film kategori A". Begitu era keemasan mereka berlalu, dunia mulai sadar hadirnya cult movie seperti itu sangat bersuara pada zamannya. Masyarakat seketika merasa seperti mempunyai "ikatan batin" dengan film-film semacam itu, walau mungkin pada masa film tersebut sedang beredar, karena adalah hiburan pelipur lara saja bisa jadi ia tidak menontonnya!


Untung kegagalan Shocker masih bisa ditebus lewat Vampire in Brooklyn (1995) dan tentu saja trilogi Scream (1996-1999). Untuk Vampire in Brooklyn yang dibintangi komedian Eddie Murphy, ia bahkan terlihat memamerkan kekuatannya memadukan komedi, fantasi dan horor yang sudah ditampilkannya dalam Shocker dan (tentu saja walau sedikit) di Nightmare. Vampire in Brooklyn sendiri dibuat Wes dengan mengusung semangat blaxploitation, genre yang nyaris jarang disentuh kebanyakan sineas, apalagi yang sudah punya nama dalam genre horor.


Kegagalan Wes Craven yang nyaris serupa dengan Shocker adalah Dracula 2000 dan Wishmaster. Walau Wes tak terlibat sebagai sutradara (ia menjadi produser pelaksana) dua film tersebut yang dibuat dengan bujet tinggi itu gagal lantaran karakter dan kisahnya tak lagi mengundang pesona. Kedua film tersebut dikalahkan ikon horor baru seperti Candyman dan Jeeper’s Creepers selain Hollywood sendiri yang tengah mengalami pergeseran tren dengan ramai-ramainya mengangkat tokoh komik dan video game ke layar lebar atau kembali mengangkat tema-tema binatang (Anaconda, They Nest) atau disaster (kecelakaan/bencana alam) seperti Daylight dan Dante’s Speak.


Sedangkan dalam Scream, nama Wes Craven baru terbilang berhasil mengulang sukses kedua kalinya secara fenomenal yang belum ditandingi sutradara spesialis horor lain. Dalam Scream ia berkolaborasi dengan penulis skrip Kevin Williamson yang juga menulis skrip I Know What You Did Last Summer.


Lewat trilogi Scream ia disebut-sebut sebagai pengangkat genre teenage movie ke dalam aroma horor dan suspens yang mencekam. Scream yang sarat dengan aktor-aktris muda seperti Neve Campbell (Party of Five), Jerry O’ Connell (My Secret Identity, Sliders, Joe’s Apartment dan Stand By Me) , Skeet Ulrich, dan Jada Pinkett ini pun illustrasi musiknya pun bergaya MTV sehingga banyak menuai epigon seperti Valentine, The Craft, Buffy The Vampire Slayer, Charmed, I Still Know What You Did Last Summer dan banyak lagi.


Kesuksesan Scream seolah mematahkan pemeo bahwa untuk membuat film yang mampu menjadi cult hanya terjadi satu kali dalam kehidupan seorang sineas dan produser film. Wes berhasil mengulang sukses kedua kalinya walau dalam Scream ia tak punya ikon lagi seperti Freddy Krueger dan Horrace Pinker. Kepada Sean M. Smith dari Premiere, Wes berujar, "Apa yang menakutkan saya adalah jika terbangun saya menemukan kesuksesan Scream hanya mimpi saja,"


Sukses Scream membuat Wes untuk "kabur" sejenak ke film drama Music of The Heart. Music of The Heart (1999) dibintangi aktris kondang Meryl Streep, Aidan Quinn, Gloria Estefan dan Angela Bassett. Usaha Wes tak sia-sia. Film ini berhasil menyabet 2 nominasi Oscar untuk Meryl Streep aktris terbaik dan original song.


Nama Wes Craven sendiri sebagai sineas bolehlah tak sebanding dengan Martin Scorcese, Francis Ford Coppola atau Steven Spielberg yang selalu mendapatkan piala di pelbagai ajang film-film internasional, pun James Cameron, Sam Raimi, dan Ridley Scott yang setelah mengawali kariernya di film-film hiburan kemudian mendapat tawaran menangani pelbagai proyek film "raksasa". Tapi untuk menyebut jagat horor yang sampai mengalami 2 kali masa keemasan dengan hadirnya ikon (Freddy Krueger/Nightmare on Elm Street) dan tren remaja (trilogi Scream) hanya bisa menyebut Wes Craven.


Memang Wes tak sampai menggondol piala Oscar ataupun penghargaan Palem Emas di Cannes, tapi ia telah mengukir prestasi tersendiri yang ternyata belum dicapai sineas horor lain seperti John Carpenter, Dario Argento, Sean S. Cunningham/Victor Miller, George Romero dan Tobe Hooper. Nama Wes Craven bahkan lebih tepat disejajarkan dengan Alfred Hitchcock yang juga mengukir prestasi tersendiri dalam genre horor dengan menuai pelbagai pujian dari kritikus kondang sekelas Roger Ebert dan Harry Knowles, walau tak satupun piala Oscar pernah diraihnya.


Kutukan Freddy di Dunia Nyata

Kalau Wes Craven kondang sebagai sutradara dan kreator Freddy, bagaimana dengan Robert Englund, aktor yang menghidupkan Freddy? Ternyata walau sekilas nasibnya sepertinya sukses, karier keaktoran Englund nyaris terbelenggu oleh Freddy. Film-film lainnya nyaris tak pernah dibicarakan walau Wes sudah menempatkannya sebagai aktor kesayangan dengan mengajaknya ke dalam Dracula 2000, Wishmaster dan berbagai film lain. Kesuksesan Nightmare nampaknya secara tak langsung "membelenggu" sehingga ia nyaris "hanya" diterima jika tampil sebagai Freddy! Nampaknya aktor yang kini sudah berusia 55 tahun ini harus puas "menerima takdir"nya sebagai Freddy Krueger seperti Christopher Reeve yang sangat berhasil menghidupkan Superman, Peter Weller yang menghidupkan karakter Robocop, pun Mark Hamill yang berperan sebagai Luke Skywalker dalam Star Wars. Mereka cenderung dilupakan jika tampil dalam film lain.

Nasib serupa juga dialami Heather Langenkamp, pemeran Nancy dalam jilid pertama dan ketujuh Nightmare. Aktris cantik yang kini berusia 39 tahun ini sempat dinobatkan majalah Empire sebagai "ratu horor" seperti halnya Linda Blair yang sukses lewat The Exorcist, Jamie Lee Curtis di Halloween, Neve Campbell dalam Scream dan Sigourney Weaver dalam Alien. Sayang, nasibnya kurang lebih sama dengan Robert Englund sehingga ia tak bisa lepas dari karakter Nancy. Padahal Heather cukup aktif dengan banyak terlibat di film-film teve. Kepada Reuters ia mengaku bosan disebut-sebut sebagai Nancy. Uniknya, dalam Wes Craven’s New Nightmare, kebosanannya tersebut benar-benar diutarakannya ke dalam film itu. Dalam film tersebut Heather blak-blakan bilang ingin main film drama saja. Ya, Heather memerankan dirinya sendiri. Dalam film tersebut dikisahkan Wes Craven tengah mengumpulkan beberapa aktor-aktrisnya untuk membuat kembali New Nightmare. Tapi kengerian yang diciptakan di studio ternyata menjadi kenyataan. Suami Heather yang kebetulan bekerja sebagai pembuat spesial efek tewas. Freddy Krueger bangkit ke alam nyata menghantui pemeran Nightmare sesungguhnya. Wes Craven’s New Nightmare memang dimaksudkan Wes Craven episode paling akhir dari legenda terror Freddy Krueger. Ia mengolahnya sebagai fiksi dalam fiksi, sebuah kengerian yang subtil dan mengejutkan.

Satu-satunya aktor yang lepas dari "kutukan" Freddy Krueger adalah Johnny Depp. Padahal perannya kurang berarti sehingga penonton cenderung lebih teringat pada Heather Langenkamp dan Robert Englund saja. Johnny Depp perlahan menjadi aktor kelas satu setelah tampil di serial teve 21 Jump Street yang benar-benar melejitkan namanya dan film-film box office seperti Heathers, Edward Scissorhands, Sleepy Hollow, From Hell, Donnie Brasco, dan Pirates of Caribbean.


Heather Langenkamp dan Robert Englund boleh saja mengeluh kariernya terbelenggu gara-gara main dalam Nightmare. Tapi hal itu tak berlaku pada Johnny Depp. Bahkan sebagai "tanda terima kasih" kepada Nightmare ia bersedia menjadi cameo dalam Freddy’s Dead: The Final Nightmare yang disutradarai Russell Mulcanny. Perusahaan New Line Cinema yang memproduksi Nightmare pun memasang nama Johnny Depp dengan besar, sebesar nama Heather Langenkamp dan Wes Craven di dalam DVD A Nightmare on Elm Street dengan mencantumkan "featuring the stars: Johnny Depp".*

0 Comments:

Post a Comment

<< Home